Ridwan Kamil : Menjemput Perubahan!


Ridwan-Kamil

Siapa sih, yang nggak kenal dengan sosok pemimpin teladan dari Kota Bandung ini? Ridwan Kamil atau biasa disapa dengan Kang Emil adalah pria kelahiran Bandung, 4 Oktober 1971.  Beliau merupakan lulusan ITB jurusan Teknik Arsitektur serta lulusan S2 dari University of California, Barkeley, USA. Maka nggak heran kalau karya-karyanya yang telah termanifestasikan dalam pembangunan infrastruktur Kota Bandung sangat mengesankan. Pengalaman beliau yang pernah bekerja di Departemen Perencanaan Kota serta mendirikan firma arsitektur “Urbane” membuat karya dan prestasi Kang Emil dalam penataan kota nggak perlu diragukan lagi.

Mengabdi untuk Bandung

Bapak dua anak ini sebelumnya adalah dosen ITB yang kemudian cuti untuk menjadi walikota Bandung. Selama beberapa tahun, Kang Emil dan istrinya tinggal di negeri orang, New York, bahkan anak pertama beliau dilahirkan di sana. Mengingat perjalanan hidup Kang Emil dan Teh Atalia Praratya nggak selalu mulus seperti yang dilihat orang selama ini. Pada akhirnya, putra dari Dr. Atje Misbach, S. H. ini pun kembali ke Indonesia untuk mengabdikan dirinya di tempat kelahirannya, yaitu Bandung, Jawa Barat.

“Jadi, karena bidang saya itu dulu arsitektur. Saya punya perusahaan dan saya punya karyawan 70 orang. Tujuh belas tahun bisnis saya kemana-mana dan Alhamdulillah saya sudah selesai dengan diri saya sendiri. Lalu, pulang ke Bandung untuk membayar hutang.” Ungkap Kang Emil.

Ayah dari Emmiril Khan Mumtadz dan Camilia Latitia Azzahra ini beberapa waktu lalu hadir di Yogyakarta sebagai narasumber dalam acara “Konferensi Nasional Indonesia Berkemajuan”, beliau bercerita banyak mengenai kemajuan Kota Bandung setelah nahkoda kepemimpinan dipegang olehnya. Salah satu kisah yang diungkapkan yaitu tentang Konvensi Asia-Afrika yang telah berlangsung dengan sangat sukses di Gedung Merdeka, Bandung.

“Inovasi tentang kolaborasi dan bagaimana orang Indonesia itu luar biasa kalau diajak tolong menolong. Konvensi Asia-Afrika tahun lalu sukses. Saya minta relawan 3000 kepada warga Bandung dan yang daftar sebanyak 15 ribu orang. Untuk menunjukkan kalau hatinya sudah disentuh, memanusiakan manusia itu peradaban akan berjalan dengan luar biasa”. Ungkap alumni SMPN 2 Bandung tersebut.

Politik jemput bola

Kang Emil juga bercerita mengenai betapa indahnya negara Indonesia, namun memiliki banyak masalah. Bahwa permasalahan yang terjadi sekarang bukan semata-mata salah Indonesia-nya. Tapi, salahkan manusia yang hidup pada zaman tersebut karena membuat masalah dengan korupsi maupun dengan hal-hal lain yang membuat negara ini semakin bercitra buruk.

“Saya bilang ke anak-anak. Pilih problemnya, bikin gagasannya, bikin komunitasnya berakhir dengan budaya atau gerakan. Itu yang saya lakukan. Saya bikin contohnya Indonesia Berkebun mewakili semangat kolaborasi tadi. Hanya bermodalkan twitter di satu malam, saya bikin di dua kota dan sekarang sudah empat puluh kota. Berkebun di tengah kota, di dinding vertikal, di mana-mana. Hanya untuk menunjukkan betapa orang Indonesia ini menunggu untuk disentuh hatinya, maka akan gerak semua. Rumus inilah yang saya pakai untuk membangun Kota Bandung. Hidup jangan untuk mencari pujian. Hidup tidak untuk mengejar penghargaan. Tetapi kalau kita bekerja dengan hati, dengan passion, dengan kebutuhan dan dengan kecintaan, maka yang begitu itu mengalir sendiri.” Jelas beliau dengan mantap.

Walikota yang dilantik pada tahun 2013 lalu ini nggak hanya menginspirasi kita dalam hal tata kota. Tetapi juga memberikan gambaran baru bagi kita tentang bagaimana strategi penyelesaian masalah yang diterapkan oleh beliau dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kepemimpinannya.

“Saya sedang mempraktekkan politik jemput bola, bukan politik jaga warung. Karena perubahan itu harus dijemput bukan ditunggu. Jadi, Bupati dan Walikota  yang membawa perubahan haqqul yaqin pasti adalah mereka yang tipe proaktif, bukan tipe yang duduk di meja kantor.” Tutup penyuka Sop Buntut tersebut. (Fiya)

Comments 0

Ridwan Kamil : Menjemput Perubahan!

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: