Pratikno “From Zero to Hero”


 

382693_02474527052015_Pratikno

Siapa sangka kalau tokoh penting dalam jajaran pemerintah Indonesia ini dulunya hanya anak desa.

Sebelum mengetahui sosok inspiratif kali ini, mari mulai dengan obrolan renyah dari seseorang yang memiliki andil besar dalam sistem pemerintahan Indonesia ini. “Saya ngekos karena SMP jauh dari desa saya. Waktu itu, jarang sekali teman saya yang melanjutkan pendidkan sampai tuntas. Belum lagi di daerah desa, Bojonegoro, listrik saja baru dialiri sekitar 1990,” ujar pemilik nama Pratikno memaparkan masa lalunya.

Di balik semua kesulitan yang pernah dihadapinya saat itu, beliau bertekad agar dapat menuntaskan pendidikannya agar ilmu yang didapatkan dapat bermanfaat bagi umat. Meskipun sempat merasa minder karena statusnya sebagai “anak desa”, ia pernah menjadi mahasiswa terbaik di jurusannya, Ilmu Pemerintahan UGM, saat memasuki semester III. Setelah lulus, Pratikno melanjutkan pendidikan masternya di Department of Development Administration University of Birmingham, Inggris. Serta mengambil gelar doktornya di Department of Asian Studies, Flinders University of South Australia. Setelah menyelesaikan masa studinya, ia membentuk sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat bernama Ademos Indonesia yang bertujuan untuk mengadvokasi dan membentuk kelompok peternak dan mengembangkan teknologi peternakan.

Dalam benaknya, beliau bercita-cita menjadi seorang Camat. Namun, Allah berkata lain. Praktikno diberi tanggung jawab untuk menjadi Menteri Sekretaris Negara pada masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo, sesaat setelah menjabat sebagai Rektor UGM. Sebagai seorang akademisi, Praktikno mengaku dekat dengan Jokowi yang sama-sama merupakan alumni dari Universitas Gadjah Mada. Meski begitu, belum pernah sekalipun terbersit dalam pikiran kalau Jokowi meminta dirinya untuk ikut ambil andil dalam mengurus Negara.

edit_HMS_4467

“Saya tidak pernah menyangka untuk menjadi seorang menteri. Bagi saya, jabatan ini sangat berat karena mengemban amanah yang besar. Bismillah saja,” ungkap Praktikno saat ditemui di depan media pers.

Kalau ditanya soal harapan kepada generasi penerus bangsa. Pratikno berpesan untuk meraih cita-cita yang diinginkan. Pada tahun 1950an, orang dikatakan sukses jika menguasai Bahasa Melayu. Beda halnya dengan yang terjadi di masa sekarang, orang dikatakan sukses jika menguasai Bahasa Inggris. “Jangan pernah takut untuk belajar Bahasa Inggris. Saat ini, Bahasa Inggris merupakan bahasa pemersatu dunia. Dengan mempelajari bahasa Inggris, Negara kita bisa lebih maju,” tutupnya.

Satu lagi sosok nyata dari “From Zero to Hero” yang benar-benar terjadi di Indonesia. Tinggal di desa tak menjadikan Pratikno sebagai sosok yang ketinggalan zaman, ia justru bersikeras untuk terus maju dan menggenggam dunia agar bisa berkembang bersama dirinya. (Tika)

Comments 0

Pratikno “From Zero to Hero”

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: