Muhammad Zaenal Abidin, Membawa Desa ke Dalam Sinema


 

IMG_4613

Ada di Lingkungan Minim Fasilitas, Tak Menyulutkan Semangat Remaja Ini dalam Berkarya untuk Memajukan Kampung Halamannya.

Sobat Kuntum ada yang hobi bikin film pendek, nggak? Kalau iya, cocok banget sama cowok yang habis dapat juara pertama Festival Film Pelajar Jogja (FPPJ) #6 nominasi fiksi ini. Dia bernama lengkap Muhammad Zaenal Abidin. Remaja yang sekarang masih duduk di bangku SMA PGRI 2 Kayen ini mengaku senang ketika dinobatkan menjadi pemenang pertama kategori fiksi. “Senang, bahagia dan grogi karena ini pertama kali saya ikut lomba dan langsung juara. Alhamdulillah. Walaupun sekolah sebenarnya sudah beberapa kali mengikuti FPPJ.” Ungkap Zaenal, sapaannya.

Bersama dengan timnya yang terdiri dari delapan orang, ia berhasil merampungkan film pendek fiksinya yang berjudul “Mumpung”. Dengan modal inspirasi dari latar belakang budaya Jawa, khususnya daerah Pati, Jawa Tengah. “Film ini terinspirasi dari budaya di daerah saya yang biasanya kalau ada acara hajatan itu memakai beras dan tumpul. Nah, dari situ.” Ujar remaja yang berzodiak Leo ini.

Film pendek yang menggunakan dialog bahasa Jawa ini memang banyak mengundang perhatian. Sehingga mengantarkan remaja kelahiran Pati, 12 Agustus 1998 ini menjadi Sang juara. “Mumpung bercerita tentang seorang anak yang ingin hidup sejahtera, makan makanan layak tapi caranya salah. Caranya dengan menukar beras milik tetangganya yang menitip. Jadi di daerah saya, kalau mau ada hajatan itu biasanya memakai beras. Nah, Mumpung beras yang dititipkan itu milik orang yang “punya” kepada orang yang “tidak punya”. Berasnya ditukar menjadi lebih jelek.” Papar remaja yang bercita-cita ingin menjadi pebisnis atau guru ini.

IMG_20151117_202216

Budget Murah, Namun Berkualitas

Intinya, film pendek yang berdurasi 15 menit ini ingin menyampaikan suatu pesan yaitu, “Syukuri apa yang kita miliki jangan sampai mengambil hak orang lain”, seperti yang tertera dalam sinopsis film pada buku FFPJ. Cerita tentang proses produksi film, Zaenal mengatakan bahwa dirinya tidak memerlukan waktu yang lama, yaitu selama satu hari take dengan melibatkan 10 orang crew. Sehingga menghabiskan biaya yang relatif lebih sedikit. Karena ia dan timnya di-support penuh oleh pihak sekolah. Mengingat Zaenal adalah siswa lab skill sinematografi.

Namun, suka duka Zaenal saat bikin film pasti ada, Sob! Tinggal bagaimana persepsi seseorang terhadap kejadian-kejadian tersebut. Apakah menjadikannya alasan yang menghambat kreativitas dan kinerja atau melihatnya sebagai tantangan untuk bisa ditaklukkan. Seperti yang dialami oleh Sobat kita satu ini. “Sukanya di pembuatan film itu melakukannya dengan bersama-sama, baik saat susah atau saat senang. Kalau dukanya, ada kejadian pemainnya kecelakaan dalam pembuatan film tersebut. Walaupun di awal mengalami kecelakaan, namun dia bertekad untuk melanjutkan film tersebut.” Jelas remaja berusia 17 tahun ini

Remaja yang memiliki hobi bermain futsal dan nge-game ini tahun depan ingin mengikuti festival film yang sama dan berharap supaya remaja-remaja di Indonesia juga bisa berkarya dalam dunia sinematografi seperti dirinya. “Semoga perfilman Indonesia menjadi lebih maju dan generasi muda Indonesia juga mau lebih kreatif lagi di dalam perfilman.” Harap Zaenal.

Satu hal yang menjadi daya tarik dari seorang Muhammad Zaenal Abidin adalah bahwa meski dia berasal dari desa, namun nggak menyulutkan semangatnya untuk selalu berkarya mewarnai dunia perfilman pelajar Indonesia. Menurutnya, ia penasaran dengan dunia perfilman, karena di daerahnya perfilman adalah hal yang susah. Itulah yang membuat Zaenal justru tertarik. Jadi, jangan pernah berhenti berkarya meski seperti apapun kondisimu, Sob! (Fiya)


Like it? Share with your friends!

102

Comments 0

Muhammad Zaenal Abidin, Membawa Desa ke Dalam Sinema

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: