Menghadapi Kemaksiatan Dengan Sepenuh Kemampuan


bendera-isis-1

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (berdakwah) di jalan Allah, dan mengerjakan amal shaleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslimin’’.

(QS. Fushshilat: 33)

Yang namanya kemaksiatan kini semakin tumbuh subur di mana-mana. Kemaksiatan menyusup ke rumah-rumah, sekolah-sekolah, warung makan, pasar, super market, kantor, pabrik, bahkan di jalan raya. Di kota atau desa hampir sama saja. Pelakunya pun terdiri bermacam manusia.

Bentuk kemaksiatan semakin beraneka rupa. Mulai dari kekerasan dalam rumah tangga sampai ribut dengan tetangga. Mulai dari berpacaran di sekolah sampai kebut-kebutan di jalan raya. Mulai dari tipu-menipu di pasar hingga praktek riba di mana-mana. Seringkali kemaksiatan  terjadi di depan mata, sementara kita tak mampu berbuat apa-apa.

Bagaimana sikap kita menghadapi kemaksiatan atau kemungkaran yang semakin meraja lela? Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam sudah memberikan panduannya. Prinsipnya jelas dan tegas: mengubah atau menghentikannya. Bukan malah membiarkan begitu saja. Tidak pula larut dalam kemaksiatan yang ada.

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya,  maka jika ia tidak mampu dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Sebagaimana disebut dalam hadits di atas, dalam mengubah kemungkaran ada beberapa tahapan. Pertama, mengubah dengan tangan. Ini dimungkinkah bagi siapa saja yang memang memiliki kemampuan, kekuatan, dan atau kekuasaan. Misalnya jika kita melihat ada bacaan porno di rumah kita, maka kita bisa melenyapkannya dengan tangan. Saat menyaksikan ada beberapa teman bertengkar dahsyat, kita bisa melerai agar tidak berlanjut jadi tawuran.

Mengubah dengan tangan bisa juga dimaknai dengan kekuasaan. Dengan kekuasaannya, Pak RT bisa mendamaikan warga yang bermusuhan atau mengancam warga yang suka mengganggu ketentraman. Guru bisa memberi sangsi kepada siswa yang terlibat perkelahian. Mestinya pemerintah pun bisa mencegah dan menghentikan berbagai kemungkaran karena pemerintah memang punya kekuasaan dan kekuatan. Sayangnya, yang terjadi juastru malah sebaliknya, ada banyak oknum pemerintah yang berdiri di balik kemaksiatan.

Kedua, mengubah dengan lisan. Jika kita memang tidak kuasa mencegah kemungkaran dengan tangan, maka lisan bisa menjadi pilihan. Ketika kita menyaksikan tradisi berbau syirik atau bid’ah dijalani masyarakat, kita wajib mengubahnya. Jika memungkinkan, kita bisa membubarkan kegiatan atau merusak sarana yang dipakai tanpa timbul persoalan. Itu maknanya kita mengubah dengan tangan. Tapi yang semacam itu agak sulit dilakukan. Biasanya masyarakat justru akan melawan. Lebih baik jika kita bisa menyampaikan dakwah dengan lisan secara sopan dan perlahan-lahan.

Al-Quran sudah mengajarkan agar kita saling nasehat-menasehati. Tentu dalam hal kebenaran dan kesabaran. Kita bisa memulai menasehati orang-orang terdekat untuk tidak melakukan perbuatan maksiat. Awali dari keluarga, merembet ke tetangga, melebar ke masyarakat luas.

Yang pasti, menggunakan lisan untuk menyeru dalam kebaikan adalah perkataan yang paling baik.

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (berdakwah) di jalan Allah, dan mengerjakan amal shaleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslimin’’. (QS. Fushshilat: 33)

Dalam usaha merubah kemungkaran dengan lisan, kita bisa melakukannya dengan pendekatan pribadi. Berbicara langsung kepada orang perorang atau lewat forum-forum resmi. Semua tentu dilakukan dengan hati-hati. Jika serampangan, pelaku kemaksiatan tidak akan menuruti tapi malah semakin menjadi-jadi. Tak jarang kita malah dibenci dan dimusuhi. Jalan dakwah pun seperti terkunci.

Dalam mengubah kemungkaran dengan lisan, dapat dilakukan dengan dua cara. (1) Dengan langsung mengatakan kepada pelaku kemungkaran untuk meninggalkan kemaksiatan. Boleh juga memarahinya jika keadaan menuntut demikian. (2) Jika tidak berani demikian, laporkan kepada para penguasa (waliyul amri).

Prinsip-prinsip yang diajarkan Al-Quran dalam hal mengggunakan lisan mestinya kita perhatikan. Al-Quran mengajarkan agar kita mengucapkan perkataan yang benar atau lurus (qaulan sadiidan). Ini dijelaskan di Surat Al-Ahzab: 70. Intinya, perkataan kita harus benar, ada ilmunya, tidak asal bunyi.

Ada juga qaulan layyinan atau perkataan yang baik dan lembut (QS. Thaha: 43-44). Di ayat tersebut, Allah memerintahkan Nabi Musa Alaihissalam untuk mengingatkan Fir’aun, Sang Raja Durhaka, dengan perkataan yang baik, lembut, sopan. Mengingatkan penguasa atau pejabat dengan kata-kata yang kasar justru tidak akan membawa keberhasilan. Ini juga berlaku bgi kita lho.

Di dalam Al-Quran juga dikenal istilah qaulan ma’ruufan: perkataan baik yang dikenal, mudah dipahami (Al-Ahzab; 32). Jika mengingatkan pelaku maksiuat dengan kata-kata yang tidak dimengerti jelas susah diterima. Apalagi jika dengan kata-kata yang bisa mengundang salah tafsir.

Ada juga qaulan balighaa: sampai lagi membekas (An-Nisa’: 63). Banyak orang yang nasehatnya tidak diperhatikan orang lain karena kata-kata yang diucapkan tidak memiliki kekuatan qaulan baligha. Tidak sampai di hati yang dinasehati, tidak membekas. Kata orang, masuk dari telinga kanan eh keluar dari telinga kiri.

Ketiga, mengubah dengan hati. Ketika kemaksiatan terjadi di depan mata, sementara kita tidak sanggup mengubahnya dengan tangan dan lisan, jangan menyerah. Kita hendaknya mengingkari dengan hati meski yang demikian ini merupakan selemah-lemah keimanan. Prinsipnya kita membenci kemungkaran itu, tidak setuju keberadaannya, dan menginginkan agar bisa lenyap.

Jika kita terjebak dalam acara pertemuan yang ternyata di dalamnya ada kemungkaran, jangan sampai kita tidak melakukan langkah apapun. Misalnya di situ ada acara nyanyi-nyanyi dengan menampilkan wanita seksi. Pengunjung pun ikut bergoyang sesuak hati. Mau membubarkan acara jelas tidak mungkin, toh kita hanya tamu. Mau menasehati tidak ada kesempatan dan kemampuan. Langkah yang kita ambil adalah membencinya.

Mengingkari dengan hati tentu mesti diikuti dengan anggota badan yang lain. Jika jelas-jelas acara yang kita ikuti bertabur kemaksiatan, melangkah pergi bisa lebih berarti. Mengajak teman untuk pergi pun bisa dilakukan. Semua dilakukan dengan cara yang aman.

Bagaimana jika tetap bertahan? Bisa berbahaya. Setan akan melancarkan goadaan. Membisikkan dalam diri kita untuk ikutan menikmati kemaksiatan. Jika hati tidak menyetujui penampilan penyanyi seksi kok mata memelototi…itu namanya bohong. Sama saja tidak mengubah dengan hati. Yang pasti kita malah mendapat rugi.

Yuuk, hadapi kemungkaran dengan segenap kemampuan.(*)

Mas Sutrisno

sutrisnokuntum@gmail.com

WA.081328795546


Like it? Share with your friends!

97

Comments 0

Menghadapi Kemaksiatan Dengan Sepenuh Kemampuan

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: