MEA: Membangun Ekonomi “Apik”


AEC-MEA-2015

Denger kata MEA pasti langsung kepikiran sama pasar bebas antar Negara se-ASEAN, kan? Yaps, Masyarakat Ekonomi ASEAN atau yang disingkat MEA ini sering banget dibahas. Kebijakan yang digagas oleh para pemimpin Negara ASEAN periode lalu ini bertujuan untuk menyaingi pertumbuhan ekonomi di Cina dan India. Selain itu, MEA diharapkan dapat menarik investor asing untuk membuka lapangan kerja di ASEAN.

Meski buka potensi yang gede banget. Tapi kalo belum siap, bukannya untung, Indonesia malah bisa bangkrut, loh. Berdasarkan kajian yang dirilis oleh Sekretariat ASEAN. Pada penilaian tahap ke-3 (2012-2013). Thailand menjadi Negara yang paling siap menghadapi implementasi Pasar Tunggal ASEAN 2015 dengan tingkat kesiapan 84,6 persen, disusul Malaysia dan laos dengan 84,3 persen, Singapura 84 persen dan kamboja 82 persen. Sedangan Indonesia punya kesiapan sebesar 81,3 persen alias di urutan ke-6. Posisi Indonesia dalam perdagangan Intraregional ASEAN saat ini juga belum optimal. Total ekspor Indonesia ke Negara-Negara ASEAN masih dibawah Singapura, Malaysia dan Thailand.

Eko

Berangkat dari data di atas. Salah satu ipmmawan PP IPM, Eko Andrianto, memberikan beberapa saran untuk menghadapi MEA. Sebagai berikut:

  1. Memberikan sosialisasi terhadap masyarakat melalui media-media tentang pentingnya MEA, menyangkut kemajuan Negara Indonesia.
  2. Untuk bersaing, Indonesia memerlukan peningkatan kapasitas produksi yang bernilai tambah melalui investasi.
  3. Meningkatkan ekspor di bidang industry, seperti otomotif, elektronik, semen, pakaian, furniture dan kuliner.
  4. Pelajar Indonesia harus menguasai bahasa asing, supaya nggak kalah saing dengan negara tetangga sob.

Meski pada tahun 2014, MEA jadi topik hangat yang menggemparkan. Selama Sobat ngikutin tips di atas, pasti bisa jalanin kok. (Rheza, sumber: artikel dari Eko Andrianto)

Comments 0

MEA: Membangun Ekonomi “Apik”

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: