Lebih Asyik Menjadi Pendengar yang Baik


Suatu ketika, ada seorang guru yang terpaksa marah-marah di depan kelas lantaran banyak siswa yang ribut melulu. Sejak awal pelajaran, sebagian besar siswa tidak mau memperhatikan pelajaran dari guru. Mereka sibuk dengan ‘acara’ yang kurang bermutu. Ada yang bercerita seenaknya, bercanda semaunya, ngobrol tanpa kontrol, atau  bisik-bisik dengan teman sebangku.

Kejadian semacam itu kadang terjadi di banyak sekolah. Guru terpaksa marah untuk “memaksa” para siswa agar memperhatikan pelajaran dengan terarah. Suasana yang tercipta pun terasa gerah. Lain halnya jika para pelajar bisa menjadi pendengar yang baik, akan lahir suasana kelas yang nyaman dan indah.

Dalam beberapa forum rapat, pengajian, atau seminar kadang juga sering ditemukan ada peserta yang belum bisa menjadi pendengar yang baik. Saat pimpinan rapat bicara, ada yang malah sibuk bisik-bisik. Ketika ustadz berceramah, sebagian jamaah terlibat ghibah dengan asyik. Adanya pendengar yang kurang baik juga mudah ditemukan pada forum-forum tidak resmi atau bincang-bincang  biasa. Bercakap-cakap di teras sekolah, di warung, di perpustakaan, atau ketika bercengkerama dengan keluarga.

Pendengar yang kurang baik jelas akan mengganggu pembicara dan sesama pendengar. Pembicara yang tidak baik pun akan ‘mengganggu’ pendengar. Maksudnya, para pendengar menjadi tidak tertarik dengan apa yang dibicarakan, sehingga tidak mau memperhatikan dengan benar. Untuk itu, pembicara dan pendengar harus saling kerja sama sehingga segalanya berjalan lancar.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kita, “Jadilah orang ‘alim (orang berilmu), atau jadilah muta’alim (orang yang rajin belajar), atau jadiah mustami’(pendengar), atau jadilah pecinta (ilmu). Dan jangan jadi orang yang kelima.” (HR. Baihaqy).

Untuk dapat tampil menjadi pembicara yang baik memang butuh usaha keras dan tak kenal menyerah. Begitu juga untuk bisa menjadi pendengar yang baik, butuh perjuangan tak kenal lelah. Apa saja yang mesti diperhatikan agar kita bisa menjadi pendengar yang baik dan penuh barokah?

Pertama, diam. Orang yang sulit diam biasanya sulit menjadi pendengar yang bermutu. Jika seorang siswa tak mau diam bagaimana mungkin bisa memperhatikan apa yang diterangkan guru? Bagaimana mungkin ilmu yang diceramahkan ustadz bisa diserap jika jamaah pengajian ribut melulu? Orang yang tidak bisa diam, selain merugikan diri sendiri juga merugikan orang lain yang ingin menambah ilmu.

Diam di sini tidak berarti diam layaknya orang mati yang cuek dengan segala sesuatu. Bukan pula kelihatan khusyuk tapi mengantuk, bukan tenang tapi merasa tegang, bukan tertunduk lesu, atau tertidur tanpa malu-malu. Diam karena memperhatikan, diam karena pilihan,…inilah diam yang bermutu.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penulis : Sutrisno / Foto: AkhlakMuslim.com


Like it? Share with your friends!

89

Comments 0

Lebih Asyik Menjadi Pendengar yang Baik

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: