Kompetisi Para Sutradara Muda


7

Setelah sukses menyelenggarakan festival hingga setengah dekade, Festival Film Pelajar Jogja kembali pada tahun keenamnya dengan membawa aksi Anti-Bullying.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2010, nggak terasa acara bernama Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) yang diadakan pada 5 – 6 Desember 2015 lalu ini sudah memasuki era keenam. Perayaan yang diselenggarakan di Komplek Pondok Pemuda Ambarbinangun ini menerima sebanyak 171 karya yang terdiri dari kategori dokumenter, fiksi dan video musik.

“Kami tahu prosesnya pasti tidak mudah. Namun, semoga karya-karya pelajar tersebut menjadi energi yang kuat untuk terus belajar. Setiap karya, pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bukan masalah sama sekali. Perfection does not exist. Selalu ada pelajaran yang membuat kita mengerti,” buka Eni Puji Utami, ketua panitia FFPJ, pada Kuntum.

Pengunjung festival nggak cuma dari kalangan pelajar Jogja aja. Ada juga pelajar dari Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Riau, Sumatera Barat, Lampung, Bangka Belitung, Sulawesi Tengah, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Papua Barat, dan masih banyak lagi yang hadir dengan keunikan karyanya masing-masing. Spesialnya, FFPJ yang ke 6 ini membuka kategori baru yang bisa diikuti oleh semua pelajar, yaitu video testimoni anti-bullying.

9

Nggak cuma kompetisi aja yang disuguhkan. FFPJ juga menyediakan sederet acara yang sudah dirancang panitia guna berbagi pengetahuan, pengalaman dan belajar memahami serta menggunakan film sebagai sarana ekspresi seni, komunikasi dan budaya. Mulai dari Kelas Media Advokasi, Kelas Lensa Anak, Kelas Digital Security, Forum Pendidik, Pemutaran Film, Temu Komunitas dan Api Ekspresi. “Paling suka pas Temu Komunitas dan Api Ekspresi. Meski acaranya sampai malam, tapi asik. Jadi nggak bikin ngantuk. Disana kita bisa saling share pengalaman sama temen-temen dan komunitas yang ada. Pokoknya kekeluargaannya dapet banget,” sahut Yunita Maulina dari SMKN 1 Karanggayam.

Concern di Anti-Bullying

Kadang nge-bully teman itu dianggap bercandaan aja. Tapi, asal Sobat tau, efek dari nge-bully ternyata nggak sesederhana yang ada di pikiran kita, lho. Emang sih, efek itu kadang nggak kita rasakan atau kita lihat sekarang. Tapi coba lihat 4 atau 5 tahun mendatang. Misal, saat kita meng-upload video teman kita yang “sedikit memalukan” dan di-share. Apa Sobat tau efek kedepannya? Mungkin bakalan menjadi sebuah tekanan bagi teman yang di-bully. Sekalipun videonya sudah dihapus, tapi ternyata masalah nggak selesai sampai di situ aja. Video pasti sudah tersebar dan jadi susah banget untuk dihapus. Nah, karena ngelihat kasus inilah, FFPJ kali ini lebih konsen sama pesan anti bullying. Biar nggak ada lagi kasus bully terjadi di kalangan pelajar.

Rahasia kenapa FFPJ selalu bertambah peminatnya setiap tahun ternyata ada di hiburan-hiburan baru yang ditampilkan setiap periodenya, selain konsep sederhana yang ngangenin. Ada juga pertunjukkan musik dan tarian yang siap memanjakan peserta. Salah satunya datang dari Band Sindikat Musik Penghuni Bumi (Simponi) dan tampil membawakan lagu-lagu yang menggambarkan “Indonesia kekinian” dengan aransemen yang khas. “Pokoknya bikin tambah semangat, deh. Meski berlangsung 2 hari, dijamin peserta nggak bosen apalagi rugi ikut FFPJ ini,” tutur M. Zaenal Abidin, pemenang dari kategori Fiksi.

4

“Selamat kepada seluruh pemenang FFPJ #6 di tahun 2015 kali ini. Terus berkarya dan jangan pernah takut untuk berkarya. Belajar bisa dari mana saja, bahkan dari hal yang terburuk sekalipun. Buat temen-temen yang belum menang. Nggak usah sedih! Kalian semua sudah menjadi pemenang. Menang melawan rasa takut berkompetisi. Semoga perayaan FFPJ bukan hanya sekedar perayaan, tapi juga sebagai bagian dari kerja bakti siapa saja yang telah dan akan menjadi bagian dari FFPJ yang sudah bekerja keras dari awal hingga terselenggaranya acara ini.” Tutup Eni.

“Oh ya, kami masih memiliki mimpi untuk menjadi Jogja International Student Film Festival seperti yang pernah kami deklarasikan di tahun pertama penyelenggaraan festival,” imbuh Tony W. Taslim dalam sambutannya. Kita doain juga, ya, Sob! Semoga FFPJ dapat dikenal di kancah internasional. Sehingga dapat diikuti oleh pelajar-pelajar dari luar Indonesia. Salam Sinematografi! (Dinda)


Like it? Share with your friends!

79

Comments 0

Kompetisi Para Sutradara Muda

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: