Kisah Sang Pencetus Jejak Si Joki


IMG-20160329-WA0002

“Jangan takut membuat perubahan entah itu berupa karya atau yang lainnya. Bisa dimulai dari hal kecil selama niat itu bertujuan baik dan bermanfaat bagi orang banyak.”

Remaja yang akrab dipanggil Grandhys ini berhasil menyabet juara 3 Kompetisi Remaja Berkarya Nasional yang diadakan perusahaan multipolar bekerja sama dengan Telkom University. Siswa yang masih duduk di bangku SMK Telkom Malang mengaku bersyukur atas hasil yang diraihnya. “Alhamdulillah, baru kali ini kita buat aplikasi game berbasis Android. Meski bukan juara satu, kami tetap senang. Sebenarnya juga nggak nyangka, sih, bisa dapat juara tiga. Soalnya kami sadar masih ada banyak bug seperti kesalahan sistem atau error sistem. Masih perlu perbaikan dan pengembangan lagi.” Ungkap Grandhys.

Bersama dengan timnya yang bernama Tiga Burung Vektor. Grandhys, Rafika Aulia Rahma dan Cahyo Adi Putra akhirnya berhasil menyelesaikan game yang dirancang bernama Jejak Si Joki. “Sebelumnya tim kami hanya mencoba membuat web developer. Berkat bimbingan dan pengarahan dari guru pembimbing. Kami dilatih untuk membuat game di aplikasi android.” Jelasnya.

Lomba tersebut diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia. “Game si Joki ini merupakan game mobile yang kami buat dengan ide mengenai budaya Nusantara. Dimana kami membuat game tersebut dengan tujuan mengenalkan serta mempromosikan budaya Indonesia.” Papar remaja yang lahir di kota Banyuwangi ini.

IMG-20160329-WA0009

Aplikasi Jejak Si Joki

Ternyata nama Si Joki ini terinspirasi dari Presiden Indonesia kita saat ini. Tentunya dengan sedikit sentuhan kreativitas hingga terciptalah nama Si Joki yang mempunyai arti menyusuri ibu pertiwi. “Sesuai dengan namanya, aplikasi ini dibuat untuk dapat bermain game sekaligus mengenal budaya Indonesia. Karena di setiap scene atau daerah, terdapat rumah adat dilengkapi dengan baju adat yang dikenakan oleh aktor game. Sehingga di setiap stage, kita adaptasi dari daerah-daerah di Indonesia dengan menyesuaikan tema yang sesuai di stage tersebut.” Jelas Grandhys.

Butuh waktu dan proses untuk bisa menyelesaikan aplikasi tersebut. Awalnya Grandhys disuruh membuat ide dan proposal yang kemudian akan diseleksi. Setelah terpilih, membuat aplikasi dan demo di YouTube hingga tersaring lagi menjadi 6 tim. Tahap selanjutnya, Grandhy dan rekannya pun melakukan proses pengetesan di beberapa perangkat Android.

Yang namanya prestasi itu bukan tanpa kerja keras. Rintangan dan hambatan pasti ada. Tapi apabila diperjuangkan dengan optimal, Insya Allah, hasilnya juga optimal. “Yang paling berkesan itu saat membagi waktu. Mengerjakannya sampai larut malam. Kalau perlu sampai nginap di kos teman karena lembur. Pernah juga kita nggak ikut ujian sekolah karena saking padatnya ngerjain aplikasi ini. Tapi, Alhamdulillah, semua pasti ada hikmahnya.” Terang Grandhys.

Remaja kelahiran 1997 ini juga mengungkapkan harapannya mengenai aplikasi yang dibuatnya. “Semoga kedepannya, game ini bisa menjangkau seluruh perangkat mobile. Bisa didownload jutaan masyarakat Indonesia dan luar negeri. Saya juga berharap semoga nantinya ada inovasi lagi untuk pengembangan game ini. Saya merasa sangat bersyukur mempunyai tim Tiga Burung Vektor yang sangat solid, guru pembimbing yang sangat mendukung dan seluruh pihak sekolah yang telah membawa saya meraih juara sampai sekarang ini.” Tutup Grandhy. Penasaran, kan, sama aplikasinya? Buruan download aplikasinya sekarang, Sob! Gratis! (Dinda)

Comments 0

Kisah Sang Pencetus Jejak Si Joki

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: