Kartika Puspitasari Nggak Mau Jadi Lumut


 

YP 2

Ironi dengan keadaan candi yang kotor diserang lumut. Cewek yang pernah ke New York ini punya obat untuk mengatasinya.

Bagi sebagian orang, meneliti adalah sesuatu yang dirasa biasa saja. Bahkan, ada yang bilang, apa sih menariknya? Namun, berbeda dengan peneliti muda yang satu ini. Dara kelahiran Sleman, 29 April 1998 dan kerap disapa Tika ini malah tertarik dengan dunia penelitian. “Meneliti adalah kepo. Melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat. Dan si peneliti memang harus kepo. Maksudnya peka sama lingkungan dan keadaan sekitar kita,”  buka siswi kelas XII SMAN 6 Yogyakarta ini.

Berawal dari wajib setor penelitian pas kelas X.  Penelitian pertamanya tentang bunga sepatu yang dijadikan sebagai pengawet alami, khususnya pada makanan. Dari situlah, dirinya semakin tertarik buat melakukan penelitian lain.

Karir Penelitian Dimulai

Perjalanan tersebut dimulai sejak tahun 2014 lalu, Tika bersama dengan teman satu sekolahnya, Bagas Aditya, mencoba mengirim penelitian pada perlombaan. Kalau di Jepang, lumut itu dihargai. Sedangkan di Indonesia, lumut malah merusak candi. Terus gimana cara menghilangkannya? Dari keingintahuan itu, akhirnya  biji mahoni jadi solusi. Sebab, biji mahoni cukup efektif untuk mengurangi lumut. Ide tersebut sebenarnya pernah terngiang dibenak Tika saat duduk di bangku SMP dulu. “Jadi dulu pernah, tuh, pas aku lagi lagi jalan-jalan ke candi Borobudur, sempat terpeleset. Ternyata yang bikin licin itu lumutnya,” kenang cewek hobi baca ini santai.

Dari pengalaman tersebut, akhirnya didiskusikan dan menghasilkan sebuah produk yang namanya “Mas Shincan”. Artinya Minyak Mahoni Swtina L.Jact Mahagoni yang berfungsi sebagai pembasmi kerak pada bantuan candi. Nggak nanggung-nanggung, hasil penelitian tersebut pernah diikutkan lomba pada perlombaan Nasional dan menyabet medali perak. Akhirnya Tika pun jadi peserta delegasi Indonesia dalam lomba Internasional di New York tahun ini.

Nggak Selamanya Berhasil

Gadis pemalu ini pun gak selamanya berhasil dalam hal meneliti, ia mengaku sering mengalami kegagalan. “Pernah nguji sample sampai 55 kali dan itu semuanya gagal,” repet  penggemar Beethoven ini. Nggak cuma itu, otak-atik di Lab sampai malam hari dengan hasil nihil pun udah sering terjadi. Makanya, doi selalu ingat niat awal dalam meneliti, biar semangat lagi.

Klimaksnya, Tika sempat stress parah pas kelimpungan dalam mengatur jadwal antara sekolah dan penelitian. Mau nggak mau, dirinya pun terpaksa “vakum”  sekitar satu setengah bulanan. Padahal, lomba di kancah Internasional sudah menunggu. Untungnya, doi cepat move on dan bergegas kembali menyelesaikan misi sucinya dalam meneliti. “Orang tua, guru dan teman-teman di sekolah adalah motivasi saya untuk bangkit kembali. Walaupun butuh perjuangan keras,” curhat cewek yang juga menjabat sebagai Sekretaris di ekstrakurikuler Research Namche.

YP 7

             “Saya banyak belajar  dan terinspirasi ketika di New York, bangga rasanya membawa nama Indonesia disana” (Tika)

Hasil nggak pernah megkhianati usaha. Setelah berjuang kesana-kemari merampungkan tenggat waktu penelitian, Tika berhasil menyabet perunggu di acara lomba Genius Olympiad New York 2015, yang diadakan pada 13 Juni lalu selama 10 hari di New York dan diikuti hampir 106 negara. Serta dua perak pada lomba Indonesia Science Project Olympiad dan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia 2015. Bahkan, dirinya pernah jadi kelompok terbaik bidang IPA pada ajang perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRNAS) tahun 2014 silam.

Sayangnya karya-karya anak bangsa belum sepenuhnya mendapat apresiasi dari pemerintah. Terbatas hanya pada Lomba Karya Ilmiah. Padahal para peneliti muda Indonesia sudah ada banyak, khususnya di pulau Jawa. “Padahal kita sudah ke Balai Konservasi Cagar dan Budaya untuk sosialisasi. Tapi memang belum direspon baik. Meski begitu, kita tidak putus asa. Semoga, kemudian hari produk kita tak dipakai duluan oleh Negara lain,” cerocos cewek yang doyan banget makan pedas ini. Intinya sih, Tika berharap produknya bisa diaplikasikan ke masyarakat dan digunakan untuk membersihkan candi. Kalo Kuntum, sih, dukung sepenuhnya, deh! (Isma)

Comments 0

Kartika Puspitasari Nggak Mau Jadi Lumut

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: