Jangan Sia-siakan Waktumu!


Mari-Kelola-Waktu-dengan-Baik-Karena-Waktu-Adalah-Uang

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling nasehat menasihati dalam kebenaran, dan nasehat-menasehati dalam kesabaran.” (Q.S. Al-Ashr: 1-3)

Sang waktu terus berlalu tiada henti. Detik jarum jam bergeser menjadi menit, menit berganti jam, jam berputar menjadi hari. Hari-hari berjalan menjadi minggu, bulan, dan tahun secara alami. Tahun baru pun datang silih berganti. Seiring berjalannya waktu, umur kita pun semakin bertambah tanpa disadari. Tambah umur mestinya kita tambah bersyukur pada Ilahi.

Kita memang harus bersyukur dikarunia waktu yang amat istimewa. Waktu itu cepat berlalu dan manusia tak mungkin dapat membendungnya. Waktu  ibarat harta yang sangat berharga. Waktu adalah modal paling unik yang tidak mungkin dapat digantikan, dan tidak mungkin dapat disimpan tanpa digunakan untuk apa-apa.

Setiap Muslim punya kewajiban untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Kita mesti berusaha meningkatkan kemampuan mengatur waktu hari demi hari, agar hidup kita semakin berarti dan penuh makna.

Sayangnya, seringkali kebanyakan manusia suka menyia-nyiakan waktu atau sekurang-kurangnya tidak memanfaatkan waktu dengan baik dan benar. Di Surat Al-‘Ashr, Allah Subhanahu wata’ala bersumpah dengan menyebutkan kalimat “Demi masa atau waktu (‘Ashsr)”. Ini mengandung pelajaran dan peringatan agar manusia selalu menggunakan waktu dengan pintar. Jika tidak, manusia benar-benar akan rugi besar.

Seiring terus berjalannya waktu, Allah sudah menegaskan: “Sesungguhnya setiap manusia benar-benar berada dalam kerugian.” Meski demikian, Allah sudah menginformasikan bahwa ada orang-orang yang  bisa terhindar dari kerugian. Mereka adalah orang-orang yang memenuhi syarat-syarat dan ketentuan. Pertama, orang-orang yang beriman. Kedua, orang-orang yang mengerjakan amal kebaikan. Ketiga, mereka yang saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Orang-orang beriman akan selalu memanfaatkan waktu dengan memperbanyak amal kebaikan. Di antaranya melakukan dakwah: saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Bagi yang imannya lemah atau yang tidak beriman tentu lebih memilih melakukan kegiatan yang mengasyikkan meski sesungguhnya merugikan. Misalnya suka menggunjing atau membual tidak karuan.

Sang waktu terus berlalu, adakah hidup kita semakin bermutu? Waktu terus berjalan, adakah kita selalu menumpuk amal kebaikan? Umur kita pun terus bertambah, adakah kita semakin rajin beribadah?  Tidak inginkah kita meraih derajat sebagai “sebaik-baik manusia”? Maukah kita terjerumus dalam golongan “seburuk-buruk manusia”?

Sebaik-baik manusia adalah yang dikarunia panjang umur dan baik amalnya. Dan seburuk-buruk manusia adalah yang dikarunia panjang umur dan jelek amalnya.” (HR Tirmidzi).

Kunci untuk menjadi manusia terbaik cukup sederhana: selagi masih dikarunia panjang umur, perbanyaklah amal kebaikan. Ringkasnya, nikmati hidup ini dengan baik-baik dan sesuai tuntunan. Yang pelajar jadilah pelajar yang benar: belajar di rumah dengan tekun, bersekolah dengan tertib, dan jangan suka melanggar aturan.

Yang menjadi guru, bekerjalah dengan professional dan penuh kesungguhan. Untuk para karyawan, lakukan setiap pekerjaan dengan giat dan buang jauh-jauh segala bentuk kemalasan. Yang pasti, apapun status dan pekerjaannya, setiap kita bisa meraih derajat manusia terbaik asal kita terus mengisi hidup dengan berbagai amal kebaikan.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sudah memberikan panduan berkait dengan pemanfaatan waktu dan keuntungan. Hari terus berganti, ada orang yang disebut beruntung, ada yang merugi, ada yang celaka dan mengerikan.

“Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, dia adalah orang yang beruntung. Dan barang siapa yang hari ini sama pesris dengan hari kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih jelek dari kemarin maka dia orang dilaknat.” (HR. Thabrani)

Jadi, mau menjadi orang yang beruntung, merugi atau celaka adalah terserah pilihan kita. Jika ingin beruntung, jadikan hari-hari kita semakin bermakna. Jadikan hari ini selalu lebih baik dari kemarin, dan esok lebih baik dari hari ini, begitu seterusnya.

Jika hari ini, minggu ini, bulan ini, tahun ini,…kualitas kita masih sama persis dengan yang kemarin-kemarin, wah itu alamat bakal mendapat kerugian. Masak sudah dikarunia waktu dan panjang umur tapi tidak ada peningkatan. Waktu terus berlalu… hidup kok tambah tidak tambah bermutu, bahkan malah bikin malu atau memalukan.

Bagaimana jika ada orang yang dari hari ke hari imannya semakin menurun dan amalnya tambah parah dan melemah? Inilah tipe orang yang celaka dan payah. Hidupnya tidak diisi dengan banyak beribadah dan amal yang berfaedah. Sudah pasti hidupnya tidak akan indah dan jauh dari barokah.

Mari kita manfaatkan setiap waktu dan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Bukankah secara luas Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam sudah berpesan demikian? Pesan beliau bahkan amat komplit.

“Gunakan lima kesempatan sebelum datang lima perkara: Masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum fakirmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum matimu.” (HR. Hakim, Ahmad).

Orang-orang yang cerdas akan mampu mengatur waktu dengan baik. Segala hal yang memboroskan waktu dihindari. Jika menemukan waktu senggang pun dinikmati dengan sepenuh hati. Tak salah jika mengisi hari libur dengan refreshing bersama teman, setelah sekian waktu disibukkan banyak urusan. Boleh-boleh saja menikmati hiburan untuk menghibur hati dan mengusir kepenatan. Yang penting, jangan sampai salah memilih kegiatan.

Yang tak kalah penting, mari kita terus meningkatkan iman dan memperbanyak amal kebaikan.

Selamat mengatur waktu, semoga hidup kita semakin bermutu. (*)

Mas Sutrisno

kang_tris72@yahoo.co.id

WA 081328795546


Like it? Share with your friends!

76

Comments 0

Jangan Sia-siakan Waktumu!

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: