Jangan Bosan Berbuat Kebaikan!


557cebd0a81bb756098b4567
“….Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 215)

Ada banyak jalan menuju kebaikan yang bisa kita tempuh dengan mudah dan tanpa biaya. Menyingkirkan duri dari jalanan atau berjumpa kawan dengan wajah ceria pun termasuk kebaikan yang berpahala. Sayangnya, masih banyak orang yang enggan berbuat kebaikan dan malah melakukan hal-hal yang tiada bermakna.

Mari kita selalu memperbanyak kebaikan di mana saja dan kapan saja. Sesungguhnya, setiap kebaikan yang kita lakukan  diketahuhi Allah dan akan diperhitungkan-Nya. Kebaikan kita tak akan dilupakan-Nya. Demikian juga dengan keburukan, ada juga perhitungannya. Dengan banyak menabung amal kebaikan, kelak kita bisa memetik manfaat dan keuntungan, baik di dunia maupun di alam baka.

Dalam Al-Quran QS. Al-Zalzalah disebutkan, barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apapun dia kelak akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun juga akan melihat balasannya.

Pernahkah kita meluangkan waktu untuk menghitung seberapa banyak kebaikan yang kita kumpulkan dalam sehari, seminggu, sebulan, setahun, dua tahun, sepuluh tahun, sampai seumur hidup kita? Lalu, bandingkan: seberapa banyak  dosa yang kita perbuat selama ini?

Bagi seorang Mukmin, setiap kebaikan selalu bernilai sedekah dan berpahala. Menurut Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam, setiap kebaikan itu berarti sedekah (HR. Bukhari). Jadi sedekah tak mesti dilakukan dengan harta.

”Segenap persendian tubuh manusia itu dapat melakukan sedekah ketika matahari mulai terbit pada setiap harinya.  Mendamaikan dua orang yang berselisih adalah sedekah, dan membantu seseorang pada kendaraannya, lalu mengangkatkan barangnya  ke atasnya atau menurunkannya dari padana adalah sedekah. Ucapan yang baik adalah sedekah, dan setiap derap langkah untuk melakukan shalat adalah sedekah, dan mengkilangkan sesuatu yang menyakiti  orang lain dari lalu lintas umum adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi, memang banyak jalan menuju kebaikan yang bisa kita tempuh. Dan jalan itu tidak selalu sulit. Seperti diajarkan Nabi, menyingkirkan sesuatu yang bisa mengganggu orang lewat, misalnya duri atau pecahan kaca, adalah kebaikan yang berpahala dan bernilai sedekah.

Yang pasti, jangan bosan berbuat kebaikan. Seorang Mukmin sejati tak akan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa saja.  Pesan Nabi, ”Jangan meremehkan suatu kebaikan yang kelihatan sepele, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan menampakkan wajah yang ceria.” (HR. Muslim).

Apa sih sulitnya menampakkkan wajah ceria saat bertemu teman atau saudara? Selain berpahala, dengan wajah ceria dan murah senyum pergaulan bisa menjadi lebih indah dan bermakna. Sayangnya, masih banyak orang yang enggan tersenyum dan  malah suka memasang tampang garang dimana-mana. Akibatnya, mudah timbul kesalahpahaman, perselisihan bahkan saling berbuat aniaya.

Memperbanyak kebaikan itu sangat mudah dilakukan. Sayangnya, banyak orang enggan melakukan. Menyeberangkan anak-anak atau nenek-nenek di jalan adalah kebaikan. Bersekolah atau bekerja adalah kebaikan. Rajin belajar dan aktif mengaji adalah kebaikan. Mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan adalah suatu kebaikan. Bukankah inti dari dakwah adalah mengajak kepada kebaikan?

Jangan gampang ragu untuk berbuat kebaikan. Boleh jadi keraguan yang datang ketika akan berbuat kebaikan itu datangnya dari setan. Makhluk jahat itu memang selalu membisikkan sesuatu ke dalam dada manusia agar menjauhi kebaikan dan malah mengerjakan kemungkaran.

Ketika ada orang hendak memberikan sedekah kepada orang lain, setan pun sibuk meniupkan bisikan. ”Buat apa memberikan sedekah, nanti malah menimbulkan fitnah. Buat apa memberi bantuan, nanti malah menimbukan kesalahpahaman?” bisik setan. Hati pun disergap keraguan. Bingkisan yang sudah siap disedekahkan urung diberikan. Padahal jika diberikan itu akan membawa banyak kemanfaatan. Bisa jadi menjadi kebaikan yang tak terlupakan.

Memberikan bingkisan atau hadiah pada orang lain adalah sebuah kebaikan. ”Hendaklah di antara kamu saling memberikan hadiah. Sebab hadiah itu  dapat mewariskan  rasa cinta kasih dan menghilangkan kedengkian (kekotoran) hati.” (HR. Daelami)

Baju yang sudah sempit tapi masih bagus dan pantas dipakai hendaknya tidak keburu dibuang atau dimusnahkan. Toh itu bisa dihadiahkan kepada orang yang membutuhkan. Dalam urusan ini, kadang setan bisa membisikkan keraguan. ”Buat apa baju bekas dihadiahkan? Nanti malah dituduh melakukan penghinaan?” bisik setan.
Kadang setan juga membisikan  soal harga diri ketika kita akan berbuat kebaikan. Misalnya ada bisikan begini: ”Barang segitu dihadiahkan, itu bisa merendahkan derajatmu, menurunkan harga dirimu.” Menghadapi bisikan demikian, kita tidak boleh mengiyakan. Justru kita harus mengusir keraguan sembari menguatkan niat dan membulatkan tekat untuk terus berbuat kebaikan.

Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam menasehatkan, ”Hai wanita Muslimah, janganlah seorang tetangga merasa rendah akan memberi hadiah kepada tetangga, meskipun yang dihadiahkan itu sekadar kikil kambing.” (HR. Bukhari-Muslim).

Kebaikan memang harus dilakukan dengan ikhlas dan tanpa keraguan. Jika pemberian bantuan  kepada saudara, apapun wujudnya, dilakukan dengan penuh keikhlasan, kejujuran, kebersahajaan, insya Allah akan bernilai kebaikan dan membawa kemanfaatan.

Ayo, jangan bosan berbuat kebaikan. Mari menjadi hamba-hamba Allah yang baik. Dalam Surat Al-Furqon: 63-69 Allah menyebutkan ciri-ciri hamba yang baik. Antara lain rendah hati, tidak berlaku sombong atau angkuh, sopan dan ikhlas menjawab pertanyaan mereka yang membutuhkan jawaban. Juga rajin mengerjakan shalat malam, berdzikir, memohon perlindungan dari neraka jahanam. Tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta dan tidak kikir, tidak berbuat kesyirikan, tidak melakukan pembunuhan tanpa alasan yang benar dan tidak berzina.

Mari berlomba-lomba dalam kebaikan. Fastabiqul khairat! (*)

Mas Sutrisno
sutrisnokuntum@gmail.com
WA.081328795546


Like it? Share with your friends!

80

Comments 0

Jangan Bosan Berbuat Kebaikan!

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: