DEADLINE KEMATIAN


“Kau akan mati pada tanggal 1 Januari 2018!”
Suara itu menggema di ruangan yang sama sekali tak ada penerangan lampu listrik, hanya ada
sebatang lilin bertengger di atas kaleng biskuit bekas yang diletakkan di atas meja kayu. Adegan ini
kembali terulang dan ini yang kedua kalinya, di tempat yang sama, padahal dua menit yang lalu aku
sedang menyelesaikan naskah cerpenku di depan laptop.
“Gila, ada apa lagi?” aku membentak mencoba menghalau rasa merinding. Pandanganku
mengelilingi ruangan yang aku perkirakan berukuran 2 x 3. Aku mencoba berdiri karena tadi aku seperti
dilempar oleh seorang yang bertenaga besar.
Seperti apakah wujud pemilik suara menakutkan itu? Apa seperti drakula? Vampire? Zombie?
Atau malaikat kematian?
“Ah, aku bisa gila,” aku meremas rambutku “Kyriel, mana ada mahluk semacam itu di dunia ini!
Kamu ini terlalu banyak baca buku misteri,” aku bergumam.
“Kau akan mati pada tanggal 1 Januari 2013, tinggal 14 hari lagi sisa waktumu di dunia ini!”
suara menakutkan itu muncul lagi.
“Memangnya kamu ini tuhan yang menentukan hidup dan mati?” Aku kembali membentak, kini
aku bisa mengalahkan rasa takutku.
“Tuhan?” suara itu terdengar lagi, kini dengan nada menyindir , “bukannya kamu tak mengenal
tuhan?”
“Kyriel.”kini yang terdengar adalah suara lembut yang sering kudengar.“Shaima, kamu disini juga?” aku mencari sumber suara yang selalu kurindukan itu.
“Apa benar aku akan mati tanggal 1 januari nanti? Aku tak akan mendengarkanmu, itu bohong!”
geramku.
“Hahaha…” kini tawa si Mahluk tak nampak itu, menjijikan! “Kau akan mati, Kyriel!!” katanya
lagi.
Aku terduduk lemah, keringat dingin yang sedari tadi bercucuran sudah membasahi baju kaos
lengan panjangku, kaki dan tanganku bergetar hebat.
“Tuhan?”
“Kyriel…”suara Shaima terdengar lagi,lebih lirih.“Apa benar kamu akan meninggalkanaku tahun baru ini?” ada isakan pelan di sana.
“Shaima.” aku memanggil nama sahabat karibku ini, pelan.
“Kyriel.”
Tubuhku diguncang-guncangkan oleh seseorang. Aku menengok ke belakang, Shaima, ia
memegang bahuku, wajahnya dihiasi senyuman yang mampu membuatku luluh.
“Apa dari tadi kamu di sini? Kamu jangan takut, orang tadi berbohong!” kataku.
“Siapa?” raut wajahnya menandakan keheranan.
Apa yang barusan dikatakan Shaima? Bukannya tadi ia menemuiku di kamar asing tadi? Aku
memandang sekelilingku. Dan lihatlah! Aku kembali ke kamar kesayanganku. Posisiku masih seperti
sebelumnya, duduk di depan laptop.
“Apa tadi aku tertidur?” tanyaku pada Shaima yang telah mengambil kursi plastik dan duduk di
sampingku.
“Tidak.” Shaima menggelengkan kepala, “Dari tadi kamu melamun, bukannya kamu sedang
mencari ide untuk menyelesaikan naskahmu?” lanjutnya.
***
“Kyriel, kau akan mati pada tanggal 1 Januari 2018!”
Suara itu selalu terngiang di telingaku. Masih suara si Mahluk tak nampak yang berada di kamar
asing itu. Kalau itu benar aku sekarang hanya punya waktu 12 hari lagi.
“Bukannya kau tak mengenal tuhan?” lagi.
“Tuhan” lirihku “aku tak mengenal tuhan?”
“Kenapa, Mas?” sebuah suara membuyarkan lamunanku. “Anda tak mengenal tuhan?”
Ah, bukannya suara mesin metro mini harusnya membuat suaraku tidak terdengar? Aku menoleh
ke samping kanan, seorang pemuda memakai seragam putih abu sedang menatapku heran.
“Kamu mendengarku?” aku balik bertanya.
“Ya, tadi Anda bilang Anda tidak mengenal tuhan,” raut wajahnya masih menyiratkan keheranan.
“Apa kamu mengenal tuhan, dek?”
“Ya Allah,” pemuda itu mengelus dadanya, kenapa?
“Tuhan itu yang menciptakan kita dan seluruh alam ini.” pemuda itu tersenyum kecil.
“Tuhanjugayangmemberikandanmengaturrizkiberupaharta,kesehatan,keluargadanyang
lainnya yang ada pada kita.”
“Aku tahu itu.” aku seperti sedang berada di masa kecil, ketika masih kelas satu sekolah dasar.
Jika senja tiba aku akan bersiap-siap dengan sarung, peci dan buku tulis untuk pergi ke surau dekat
rumah. Di sana aku akan mendengarkan ceramah dari seorang laki-laki tua yang sering aku panggil Abah
Ustad.
“Sepertinya kamu tahu tentang tuhan, aku lupa bagaimana cara mengenal tuhan.” Kataku.
Pemuda itu menepuk bahuku, tersenyum, tulus sepertinya.
“Mas perlu beribadah kepada Ttuhan, mas tahu kan bagaimana cara beribadah?”
“Hm…” aku berpikir sejenak, “shalatkah itu?” aku ingat Abah Ustad selalu memberi wejangan
tentang shalat wajib yang lima waktu. Selama ini aku hanya melaksanakan shalat Jum’at saja. Aku terlalu
sibuk dengan tulisan-tulisanku, padahal tulisanku hampir semuanya mengajak pembaca pada kebaikan.
Aku sadar, aku telah jauh dengan-NYA.
“Ya, jika mas adalah seorang muslim.” Pemuda itu menganggukan kepalanya, masih dengan senyumannya.
“Dek, aku akan mati tanggal satu januari nanti. Apa aku bisa meminta kepada Tuhan agar aku
tidak mati hari itu? aku masih ingin menulis cerita” aku yakin pemuda ini berhati mulia makanya aku
berani bercerita.
“Berdoa saja pada Tuhan, Mas, pada Allah.” Jawabnya.
***
Sekarang tanggal 1 januari 2013, bahkan waktu hampir beranjak ke hari berikutnya, tanggal 2.
Sepanjang hari aku gemetar. Apa benar sekarang waktunya? Sejak pertemuanku dengan pemuda itu, si
Mahluk yang tak nampak itu tak menemuiku lagi.
“Mas Kyriel…!” seseorang berseru dari luar kamarku, aku baru saja selesai shalat.
Tampak wanita separuh baya berlari tergopoh-gopoh ke arahku.
“Ada apa, Bi?”
“Mbak Shaima, Mas,” pembantu di rumahku itu kelihatan cemas “Mbak Shaima meninggal
barusan.”
Deg, Sajadah yang baru saja aku lipat terlepas dari tanganku. Deadline kematian tak bisa
diketahui, hanya Allah saja yang tahu
Penulis: Nadia Rahmatul Ummah

DEADLINE KEMATIAN

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: