Berburuk Sangka Mengundang Bahaya


www.hqpixs.blogspot.com

”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain…..” (QS.Al-Hujuraat: 12).

 

Ada banyak hal yang bisa merusak indahnya persaudaraan yang sudah lama terbina. Salah satunya adalah sifat buruk sangka. Berawal dari buruk sangka bisa lahir gunjingan tanpa makna. Bermula dari prasangka buruk bisa muncul pertengkaran dan saling menghina. Perkelahian, pengeroyokan, pembantaian, bahkan pembunuhan kadang muncul karena disulut oleh sifat buruk sangka. Orang yang suka berburuk sangka adalah pertanda tidak cinta pada sesama. Dia malah gemar kebencian yang tercela. Intinya, berburuk sangka bisa mengundang bahaya.

Allah Subhanahu wata’ala sudah melarang kita banyak berprasangka karena sebagian prasangka berpotensi mengundang dosa. Su’uzhan atau prasangka buruk itulah yang menjurus pada dosa. Dari buruk sangka lahirlah keburukan yang lain, seperti suka mencari-cari kesalahan dan menggunjing yang tiada berguna. Larangan di surat Al-Hujuraat: 12 sudah mencakup ketiganya.

Dalam hal buruk sangka, Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam sudah memberikan nasehat yang lengkap.

”Jauhilah oleh kalian berprasangka (buruk), karena sesungguhnya prasangka adalah sedusta-dusta ucapan. Dan janganlah kalian saling memata-matai (tajassus), saling mencuri dengar pembicaraan rahasia (tahassus), janganlah kalian saling benci, jadilah kalian sebagai orang-orang yang bersaudara.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits tersebut tersirat bahwa buruk sangka bisa menyeret orang untuk saling mencari-cari kesalahan yang berujung pada saling membenci. Kalau sudah saling benci, persaudaraan pun bisa bubar tanpa arti. Perselisihan muncul, permusuhan terjadi. Dan setan pun bergembira sekali.

Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam menggambarkan bahwa setan telah berputus asa untuk berusaha disembah oleh-oleh orang-orang yang shalat. Akan tetapi, setan berusaha untuk saling memecah belah di antara manusia sehingga mereka saling berbuat jahat.

Menanamkan sifat curiga dan buruk sangka adalah langkah awal setan dalam memecah belah kita. Ketika dalam diri seseorang sudah menaruh curiga pada orang lain, muncullah buruk sangka. Berlanjut menggunjing sedemikian rupa. Fitnah dan saling ejek pun melengkapinya. Boleh jadi, pihak yang ’diserang’ tidak terima. Pembalasan dilakukan dengan sekuat daya. Repot jadinya.

Buruk sangka dan menggunjing memang seperti ’saudara kembar’ yang kemana-mana berdua. Ketika ada seorang pengurus organisasi tidak datang rapat, ada pengurus lain yang berburuk sangka. ”Jangan-jangan dia cuma lari dari tanggung jawab,” ungkapnya. Teman yang lain menimpali, ”Mestinya dia datang untuk memberikan laporan kegiatan dan pertanggungjawaban keuangan. Eh malah tidak datang seenaknya.” Acara ghibah pun seperti memeriahkan suasana. Parahnya, ada yang tega melontarkan fitnah: ”Jangan-jangan dia memakai uang organisasi dan belum bisa mengembalikan, jadinya malu sama kita.” Runyam, maunya rapat kok malah mengundang dosa.

Berprasangka baik (husnuzhan) tentunya lebih mulia. Kalau ada teman yang tidak datang rapat, mengapa kita tidak berbaik sangka saja: mungkin ada halangan yang mendera. Atau mengapa tidak mencari tahu tentang kabarnya. Bisa telpon, sms, wa, bbm, atau bertandang ke rumahnya. Siapa tahu, orang yang ramai digunjing ternyata sedang kecelakaan dan tidak berdaya. Atau malah sedang menolong seseorang yang nyaris terenggut nyawanya.

Yang suka menggunjing diibaratkan bagai memakan bangkai saudara sendiri. Al-Quran menyebutkan, ”….. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat: 12).

Agar kita tidak terbiasa menggunjing, kebiasaan berprasangka buruk harus dijauhi. Menjauhi sifat buruk sangka juga akan menjauhkan kita dari dari berbagai kebiasaan tidak terpuji.

Kita prihatin, kebiasaan buruk sangka masih sering dipraktekkan orang dimana-mana. Di sekolah misalnya, ketika guru memberikan ulangan mendadak dengan tujuan baik, banyak siswa malah berburuk sangka. Guru dituding ’menyiksa’ siswa yang tidak melakukan persiapan sebelumnya. Peraturan sekolah yang dibuat sedemikian rupa kadang diterima siswa dengan terpaksa. Sebagian malah berprasangka buruk bahwa sekolah terlalu mengekang para siswa.

Prasangka buruk bisa juga menjadi penyebab kehancuran rumah tangga. Jika istri atau suami mudah berburuk sangka, saling tidak percaya, saling curiga…bakal repot jadinya. Pertengkaran mudah tersulut, perceraian menjadi ujungnya.

Kita dilarang berburuk sangka, tapi kita tetap dianjuran untuk bersikap waspada. Jika kita shalat di masjid pinggir jalan raya, mestinya kita harus bersikap waspada dan berhati-hati menjaga barang-barang kita. Jangan karena tidak mau berburuk sangka lantas percaya saja pada semua orang yang di sana.

Dalam pinjam-meminjam atau utang-piutang pun demikian. Jangan lupa dengan bukti hitam-putih berupa surat perjanjian, nota, kwitansi, faktur, atau apapun namanya. Bukannya kita dididik untuk berburuk sangka bahwa peminjam kelak tak akan mengembalikan. Semua demi kebaikan. Siapa tahu kelak ada yang lupa soal jumlah pinjaman atau jangka waktunya.

Selain dilarang berburuk sangka, kita pun dilarang untuk mengundang orang lain untuk berburuk sangka kepada kita. Tempat dan tindakan yang mengundang kecurigaan orang harus dihindari. Jika orang baik-baik didapati berada di tempat maksiat sudah pasti akan mengundang buruk sangka.

Mari kita jauhi sifat buruk sangka tanpa meninggalkan sikap waspada. Semoga kita bisa selamat dari berbagai bahaya. Semoga persahabatan dan persaudaan tetap terbina. Hidup pun penuh damai dan sentosa. (*)

Mas Sutrisno

sutrisnokuntum@gmail.com

WA.081328795546

 


Like it? Share with your friends!

84

Comments 0

Berburuk Sangka Mengundang Bahaya

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: