Ayah, Hadiah Terindahku


fiksi 2

Sore itu hujan berderai di luar rumah. Ayah datang lima menit setelah aku melamun sendirian di sisi jendela kamar. Ia menyodorkan secangkir teh untukku, lalu duduk di sampingku. Aku tidak tersenyum membalas Ayah, tahu kalau senyum yang akan tercetak hanya lengkungan palsu semata.

Ayah bertanya, “Kenapa, Nak?” ketika menyadari raut wajahku berbeda.

Mulanya aku memilih untuk diam. Membiarkan suara hujan mengisi hening di antara kami. Namun, ketika kulihat mata Ayah benar-benar ingin tahu ada apa denganku, aku mengatakannya. Bilang pada Ayah, aku ingin acara ulang tahun kali ini dirayakan di tempat yang mewah, dengan makanan enak dan musik keras yang memekakkan telinga. Semua temanku melakukannya. Membeli hadiah mahal untuk diriku sendiri, yang harganya setara dua bulan kerja Ayah pagi sampai malam tanpa istirahat.

Lalu Ayah terdiam untuk beberapa saat sampai aku dengar, “Ayah akan berikan apapun yang kamu mau.”

 Semenjak itu, Ayah selalu pulang dengan keringat  bercucuran dan nafasnya terengah-engah. Setiap aku tanya apa yang terjadi dengannya, Ayah tidak menjawab dan memilih untuk lekas tidur karena kelelahan. Hari berikutnya, aku melihat motor Ayah terparkir di lapangan parkir dekat pasar, tapi bukan di pangkalan ojek. Keningku berkerut, “Apa yang Ayah lakukan?”

“Ini uang yang bisa Ayah kumpulkan, cukup?” ini adalah malam entah ke berapa setelah Ayah selalu pulang dengan nafas terengah-engah dan motor yang tidak dibawanya saat ia bilang akan kerja.

Aku melihat uang yang muncul dari balik amplop coklat yang Ayah berikan. Jumlahnya lebih dari cukup untuk acara ulang tahunku dan membeli hadiah untuk aku sendiri. Aku tertegun, “Ayah, semua uang ini dari mana?”

 “Ayah mengerjakan banyak pekerjaan selama ini.”

 Air mataku turun. Ayah memelukku.

***

 Ayah sudah tidak pulang dari kemarin sore. Aku mencarinya ke pasar dan menanyakannya ke beberapa tetangga dan teman Ayah, namun semua menjawab tidak tahu. Aku kembali ke rumah sebelum sore datang karena aku harus mempersiapkan beberapa hal kecil untuk acara ulang tahunku malam ini. Aku perlu memastikan kuenya sudah siap diantar, dekorasi ruang pestanya sudah siap, dan gaun yang aku rancang sendiri sudah selesai dibersihkan. Ulang tahunku akan mewah. Tempatnya saja bukan di rumah, tapi di hotel — seperti yang dilakukan oleh teman-temanku kebanyakan.

 Malam datang. Taksi yang sudah kutelepon mengantarku ke tempat acara datang, namun Ayah belum juga pulang. Ayah tidak mungkin lupa kalau hari ini ulang tahun anak satu-satunya.

Aku sampai di hotel yang kumaksud. Beberapa tamu sudah datang. Teman-temanku memujiku malam ini, gaunku indah dan cantik, dekorasi ruangannya juga sangat anggun. Aku senang, kecuali satu hal. Ayah belum juga datang.

Jantungku makin kencang berdegup ketika semua orang mendesakku untuk segera tiup lilin, lalu potong kue. Rasanya jantungku benar-benar berhenti berdegup ketika dua orang laki-laki masuk ke ruang pesta. Bajunya coklat, jalannya tegap. Ruangan mendadak hening hingga suara sepatu boots kedua laki-laki itu terdengar di seluruh ruangan.

Polisi.

Aku terkejut. Lebih terkejut lagi ketika polisi itu menghampiriku, memberiku hormat singkat, mengucapkan selamat malam, menanyakan namaku, lalu mengatakan yang tak ingin kudengar. “Bapak Gunawan saat ini sedang berada di kantor polisi, atas tuduhan mencuri.”

 Mencuri? Ayah? Kantor polisi? Dan…ulang tahun ini?

***

“Ayah, aku minta maaf ya.” Air mataku sudah jatuh. “Ayah. Hadiah terindah itu Ayah kok.”

Dina Fadillah Salma

SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta

Comments 0

Ayah, Hadiah Terindahku

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: