melanggar realitas


Pagi ini aku terbangun. Terbangun dari malam yang sekejap bisa membuat masalah yang bising di kepala sedikit terlupakan. Air hujan yang turun dengan deras cukup membuatku penasaran ingin melihat keluar jendela. Oh lihat, air hujan itu turun membasahi seluruh karya yang sudah aku dan tim ku buat selama seminggu kemarin. Dengan setengah sadar aku segera turun dari kasur dan berlari ke taman depan rumah, beberapa meter lagi aku sampai, tiba tiba halusinasiku mulai menghantuiku lagi.

Jangan dekati taman itu Ra, kamu ingat perjanjian mu dengan Akbil? Kemarin saja kau suruh Nazwa untuk menyimpan karya itu di taman, dan pada realitas kamu juga tidak pernah masuk kesana lagi sejak kejadian itu.

Aku diam membisu, membiarkan sekujur tubuhku dibasahi oleh air hujan yang semakin menjadi karena petir yang bergemuruh. Ah pagi yang buruk. Batinku.

Ya, aku sudah berjanji tidak akan pernah masuk kedalam taman itu lagi. Terlihat dari tempatku karya seni 4 dimensi yang seharusnya sudah menjadi sesuatu yang bisa dipamerkan di pameran karya akhir tahun di sekolahku, kini sudah terlihat tak berbentuk. Patung dengan lukisan yang menghiasinya kini sudah benar-benar hancur, benar-benar lebur. Ponselku berdering tanda ada panggilan masuk. Zakia rupanya.

“ Halo Ra? Hujan nih, bisa tolong amanin patungnya dulu ga? Kayaknya kalo aku kesana sekarang takutnya patung nya udah keburu basah. Gapapa kan?”

Zakia memang satu tim dengan ku untuk acara akhir tahun nanti, tapi dia sepertinya tidak tahu kalo aku punya sebuah perjanjian dengan teman kecilku. Aku harus berkata apa? Ah kenapa sih Zakia tidak keluar rumah saja, lagian rumah nya hanya beda 3 rumah saja dari rumahku. Sudah menjadi tugas dia bukan untuk menjemur dan mengangkat patung itu? Tapi kalo aku yang mengambil aku tak yakin aku akan baik-baik saja. Ah terlalu lama berfikir aku.

“ maaf Kia, aku kekunci di rumah nih, mamah aku lagi ke pasar, daritadi belum pulang. Dan kelihatannya itu patung lukisan nya udah pudar kena air. Kira-kira gimana?” dengan segenap bualan aku berhasil membuat Zakia pecaya bahwa aku tidak mungkin untuk mengambil patung itu karena terkunci dirumah. Sementara realitas? Sebenarnya aku sedang berdiri tepat beberapa meter di depan taman. Terdengar suara pagar terbuka, ah tidak ! itu Zakia sedang

berusaha membuka gerbang rumahnya. Wah gawat, dengan cepat aku segera masuk ke dalam rumah dan mengintip dari sela-sela pagar. Tepat aku menutup pagar Zakia terlihat berlari menuju taman dan terlihat mematung di depan patung itu. Sejauh mata memandang sepertinya dia terlihat memendam kesal karena patungnya sudah tak sesuai harapan. Hujan pun mulai reda dan Zakia pun sudah beranjak dari tempat tadi dan patung pun sudah tidak ada di tempatnya. Aku segera kembali ke kamar untuk berganti bajuku yang basah kuyup ini. Terlihat ibu yang sedang memasak di dapur, ayah yang sedang sibuk di depan computer dengan setumpuk pekerjaannya, dan  kak Firman yang sedang asyik dengan gadget canggih barunya.

Setelah berganti baju aku segera mengecek tugas untuk pameran akhir tahun. Kami satu kelompok terdiri dari 5 orang : Rara, Zakia, Nazwa, Reida, dan Akbil. Ah nama terakhir dari kelompok ku cukup membuatku gusar. Biar aku jelaskan. Jadi sekolahku mengadakan acara rutin yaitu pameran akhir tahun, nah berhubung di kelasku ada 30 orang maka Bu Yani membagi kami menjadi 6 tim yang setiap tim nya terdiri dari 6 orang. Setiap kelompok harus mebuat karya seni 4 dimensi dan harus membuat filosofi yang unik mengapa karya seni itu dibuat dan layak untuk di pajang. Karya terbaik tentu nya dengan filosofi yang paling unik akan mewakili sekolah untuk mengikuti pameran seni 4 dimensi nasional di Jakarta 3 bulan lagi.

Untung hari ini hari minggu, aku bisa santai dirumah. Kau tahu apa yang biasa aku lakukan di rumah ketika libur? Hal yang paling menyenangkan adalah bernostalgia sambil minum secangkir coffee kesukaanku : black Machiatto. Mungkin sebagian orang benci akan hal ini, karena bernostalgia artinya kita mau tidak mau mengingat puing-puing kenangan yang telah terjadi. Tapi itu yang aku suka, bernostalgia bagiku seperti menyambut hari-hari penuh rindu, karena aku selalu merindukan seluruh kejadian di masa lalu, walaupun kejadian pahit sekalipun. Sebenarnya ada satu hal yang aku sembunyikan dari semua teman di kelasku. Sebuah cerita masa lalu, yang mungkin jika anak kelasku tahu akan menjadi sesuatu yang viral.

Sekitar 10 tahun yang lalu ketika umurku masih 6 tahun aku sudah tinggal di rumah yang sekarang menjadi tempat tinggalku. 10 tahun yang lalu aku bisa hidup bahagia seperti anak anak lain nya, aku bisa bebas main tanpa tau ada masalah atau apapun,

bersambung…..


Like it? Share with your friends!

69

melanggar realitas

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: