Asyiknya Giat BerjuangSekaligus Banyak Uang


“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”(QS. At-Taubah: 105)
Alangkah indahnya jika kita punya banyak uang atau harta. Jika para orangtua
memiliki banyak rezeki, insya Allah tidak akan kesulitan memberi makan keluarga dan
membiayai pendidikan putra-putrinya. Jika biaya sekolah atau kuliah tidak ada masalah,
anak pun bisa belajar dengan semangat nan membara. Jika beberapa fasilitas tersedia,
segala sesuatu menjadi mudah adanya.
Alangkah asyiknya jika para dai, termasuk anak-anak muda aktivis TKA-TPA dan
penggiat organisasi, bisa menjadi pribadi-pribadi yang lapang rezeki. Giat belajar, tekun
berkarya, rajin bekerja sehingga bisa mendapatkan rezeki berlimpah dari sana-sini.
Syukur bisa punya penghasilan yang tinggi. Kebutuhan diri dan atau keluarga pun bisa
tercukupi.
Jika masalah ekonomi diri dan atau keluarga sudah tidak menjadi masalah, kita bisa
berdakwah dengan lebih mudah dan bergairah. Kita menjadi lebih mudah mengatur
waktu: kapan harus belajar, kapan harus bekerja, kapan mengurusi TPA. Kapan membuka pintu rezeki, kapan berkegiatan organisasi. Kapan mencari maisyah (penghasilan), kapan tampil di panggung dakwah.
Sebaiknya kita memang banyak duwit, sehingga langkah kita tidak menjadi sulit. Jika
kita banyak rezeki, hidup pun lebih berarti dan banyak prestasi. Andai kita banyak uang, hidup pun lebih tenang, senang dan bisa berbagi. Untuk itu, kita memang harus terus ber-ikhtiar, berusaha, bekerja, belajar, bersilaturahmi, berdakwah….untuk membuka pintu rezeki.
Intinya, sungguh indah jika kita bisa giat berjuang sekaligus punya banyak uang. Atau, alangkah asyiknya jika kita punya banyak uang sehingga bisa lancar dalam berjuang.
Tapi ingat, jangn sampai kita berjuang dengan niatan penuh untuk cari uang.
Yang memprihatinkan, masih banyak aktivis yang belum mendapatkan kesempatan
kerja, belum berpenghasilan yang pasti, belum memiliki kemandirian ekonomi, atau
penuh keterbatasan dalam hal harta. Bagaimana mau menyebar sms hikmah atau
undangan ngaji jika masih disibukkan dengan persoalan tidak punya pulsa? Bagaimana
mau aktif berdakwah jika soal biaya masih jadi kendala? Bagaimana mau enteng berinfak jika kesehariannya pas-pasan saja?
Ada yang bilang memang enak jadi pegawai negeri yang punya gaji pasti. Atau
menjadi pegawai kantoran yang gajinya bisa dipastikan. Waktunya pun bisa diatur
dengan mudah. Pagi-siang bekerja, sore-malam berdakwah. Syukurlah kalau bisa
demikian. Namun bukankah peluang menjadi pegawai negeri atau orang kantoran sangat terbatas? Haruskah kita menunggu menjadi ”orang kantoran” atau ”orang gajian” untuk menggeluti dunia dakwah?  Terus, sebaiknya bagaimana? Inilah saatnya kita menumbuhkan jiwa kewirausahan (entrepreneurship). Ada baiknya para aktivis dakwah dan organisasi membangun semangat berwirausaha. Insya Allah itu bisa menjadi pilihan hidup yang menjanjikan, menjadi pekerjaan pokok atau sampingan.
Tentu saja jangan langsung membayangkan bahwa berwirausaha itu mesti dengan
jualan di pasar, membuka warung makan, mendirikan swalayan, atau beternak kambing.
Bukan juga harus patungan dengan teman mendirikan perusahaan mebel. Tidak harus
jualan jagung bakar atau membuka usaha percetakaan.
Tumbuhkan jiwa wirausaha mulai dari yang kecil. Jika di rumah kita banyak
barang bekas yang sudah tidak terpakai, jangan keburu dibuang atau ditimbun ke tanah.
Kumpulkan saja, jika jumlahnya banyak bisa dijual ke tukang rongsokan. Kelihatan sepele kan?
Jika di rumah kita banyak tumpukan kertas, majalah, koran, buku, kardus, dan lain-
lain yang ‘berbau kertas’ lama jangan keburu dibakar. Sortir dan pilih: mana yang masih
dipakai, mana yang sudah layak jadi kertas bekas. Yang sudah bekas bisa dikumpulkan
dan dijual. Sederhana kan? Sekilas memang sekedar menjual barang bekas, tapi itu
berpotensi untuk menumbuhkan jiwa wirausaha.
Ada tetangga minta bantuan kita untuk menjadi MC acara walimahan. Jika memang mampu, terima saja. Jika memang belum pernah, jadikan itu sebagai pengalaman pertama. Banyak-banyak belajar menjadi MC (baca buku, berdoa biar diberi kemudahan). Jika langsung kita tolak lantaran tidak PD itu namanya kita kurang memiliki jiwa entrepreneur. Seandainya tidak dikasih honor, kita sudah mendapatkan pengalaman pertama yang berharga. Dan siapa tahu bisa mengantarkan kita menjadi MC profesional.
Entrepreneurshipsering disebut sebagai urusan bisnis. Urusan intinya ya jual beli. Al-Quran mengungkapkan halalnya jual-beli (bisnis) yang dijalankan seorang Muslim. Praktek bisnis atau wirausaha merupakan salah jalan menjemput rezeki.
“……padahal Allah telah menghalalkan jual-beli” (Al-Baqarah: 275)
”(Tulislah muamalamah itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang
kamu jalankan diantara kamu maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak
menulisnya.” (Al-Baqarah: 282)
”…..kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka di antara
kamu.” (An-Nisaa’: 29)
”……dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia
Allah.” (Al-Muzzammil: 20)
Menumbuhkan jiwa berwirausaha diawali dengan membangun motivasi yang kuat. Niat kuat: Lillahi ta’ala, menjemput rezeki yang halal. Ada banyak motivasi mengapa orang berwirausaha atau mengapa tidak tertarik berwirausaha.Bagi kita, seharusnya berwirausaha karena motivasi ibadah. Jika tidak tertarik berwirausaha pun karena sudah ada ‘jalan rezeki’ lain yang juga bernili ibadah.
Untuk meraih sukses kita mesti memiliki sikap mental positif. Membangun rasa percaya diri, banyak berdoa. Juga berpikiran positif, bermental juara, selalu optimis. Ciptakan semboyan penguat mental, pendorong semangat. Yang tak kalah penting adalah sikap mental tidak takut gagal, berani mengambil keputusan, berani menanggung resiko. Pantang putus asa dan tidak banyak mengeluh. Membuka usaha besar dengan modal kecil atau malah tanpa modal, mungkinkah? Tak ada yang tidak mungkin, jika kita mau kreatif. Buka usaha yang mudah dan murah dulu. Yang penting: berfaedah dan penuh barokah. Setiap usaha mesti dimanajemen dengan baik. Direncanakan, diorganisir, dilaksanakan, dan dievaluasi. Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu menggambarkan
begini: Kebenaran yang tidak terorganisir akan mudah dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.” Al-Qur’an pun sudah mengingatkan soal manajemen.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang (berjuang) di jalan-Nya dalam barisan  yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shoff: 4)
Mari bersemangat mencari uang, bersungguh-sungguh dalam berjuang. Semoga hidup kita selalu tenang, senang, dan menang. (*)
Sutrisno
kang_tris72@yahoo.co.id

Like it? Share with your friends!

93

Asyiknya Giat BerjuangSekaligus Banyak Uang

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: