Ahmad Ma’ruf : Peduli Kaum Difable


Siapa bilang jadi inisiator itu sulit? Pandangan menjadi seorang inisiator itu sulit, terpatahkan oleh Ahmad Ma’ruf. Selaku Dosen di Program Studi Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, beliau telah menjadi inisiator dengan adanya kelompok rentan di Yogyakarta dan sekitarnya. Kelompok rentan yang berhasil dikembangkan seperti Kelompok Difabel Ngaglik, Kelompok Difabel Gamping, Kelompok Pencari Rongsok, hingga kelompok Tukang Becak Yogyakarta.

Gagasan yang diterapkan Ahmad Ma’ruf pada salah satu kelompok tersebut, yakni dengan adanya Bank Difabel di Ngaglik, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tepatnya pada tahun 2014, Ma’ruf mulai menerapkan ide pemberdayaan kelompok difabel di Ngaglik. Menurutnya, Bank Difabel ini merupakan bentuk koperasi simpan pinjam yang melibatkan anggotanya untuk berwirausaha dengan modal yang dipinjamkan.

Modal tersebut kemudian diolah untuk mengembangkan usaha yang telah dimiliki. Sistem koperasi simpan pinjam dari Bank Difabel memudahkan Kelompok Difabel Ngaglik untuk mandiri dalam berwirausaha. Anggota yang tidak berwirausaha tidak diperbolehkan untuk meminjam modal.

“Konsepnya sama seperti koperasi. Dari mereka untuk mereka oleh mereka. Mereka yang meminjam, mereka yang memutarkan sistem dan hasil  dari pinjaman juga untuk keberlangsungan kelompok ini”, tambah Ahmad Ma’ruf.

Sebelum adanya program Bank Difabel, Kelompok Difabel Ngaglik telah memiliki kegiatan rutin, yaitu arisan bulanan Anggota kelompok. Kemudian, dengan gagasan Bank Difabel, kegiatan yang pada awalnya hanya arisan saat ini lebih efektif dengan adanya pameran produk setiap anggota dari modal yang diberikan Bank Difabel. Produk yang diciptakan kelompok ini diantaranya adalah dompet kulit, budi daya madu, produk elektronik, dan olahan makanan.

Berhasil Bersama-Sama

Tak hanya itu saja, Ma’ruf juga sangat aktif dalam mengikuti kegiatan pemberdayaan masyarakat. Baginya, hal ini tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, namun juga memberi dampak positif bagi pelaku dan juga masa depan. Pengalaman Ma’ruf di bidang penelitian di bidang Ekonomi dan kebijakan publik selama 15 tahun lebih inilah yang menjadi modal beliau untuk melakukan pendampingan pemberdayaan.

Beberapa diantara pengalaman pemberdayaan yang pernah Ma’ruf lakukan adalah pernah menjadi Konsultan Pengembangan Koperasi pada Project Sosial and Economic Recovery Aceh Program (SERAP) di Aceh, Disability-Inclusive Disaster Risk Reduction (DRR) Programs oleh CIQAL, MPM PP Muhammadiyah, ILAI, dan Disability Right Fund. Serta, saat ini Ma’ruf masih aktif menjadi konsultan pengembangan Koperasi Simpan Pinjam Khusus Difabel “Bank Difabel” di Yogyakarta dan pendamping di Koperasi Kredit Marsudi Mulyo, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Ma’ruf berpesan, “Jika tidak ada kemauan, maka pendampingan yang dilakukan akan sulit berhasil. Sebaliknya, jika sebuah pendampingan telah berhasil maka jangan pernah mengatakan bahwa keberhasilan yang didapat oleh kelompok adalah karena diri sendiri. Namun, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari kelompok tersebut.”


Like it? Share with your friends!

87

Ahmad Ma’ruf : Peduli Kaum Difable

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: