Tetap Bertaqwa di Mana Saja


Inilah-Kisah-Nabi-Muhammad-dan-Sahabat-sahabatnya-Dalam-Peperangan-di-Bulan-Ramadhan

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15)

Entah dekat atau jauh, hampir setiap orang sering bepergian. Ada yang sifatnya rutin dan ringan. Misalnya, pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu, bekerja di kantor, belanja di pasar, bersilaturahmi ke rumah saudara, dan bepergian untuk bermacam keperluan. Yang semacam itu biasanya dengan jarak tempuh yang relatif dekat, waktunya tidak panjang, prosesnya sederhana, dan minim kesulitan.

Ada juga bepergian yang bersifat insidental dan butuh banyak ’perjuangan’. Selain waktu perjalanannya panjang, jarak yang ditempuh juga jauh, kadang hingga menyeberang lautan. Proses bepergiannya pun penuh tantangan, bahkan juga rintangan.

Ketika bepergian, semua orang tentu berharap bisa sukses dan selamat adanya. Perjalanan lancar, prosesnya mudah, dan selalu bermakna. Tak ada hambatan yang datang atau gangguan yang melanda. Namun demikian, yang namanya kesulitan memang bisa datang kapan saja dan dari mana saja. Tak heran jika ada kegiatan bepergian yang diiringi kesulitan demi kesulitan, bahkan berjumpa dengan berbagai mara bahaya.

Lalu, bagaimana agar kegiatan bepergian yang kita lakukan selalu bermakna, aman, dan nyaman? Jawabnya jelas, bepergianlah sesuai dengan tuntunan. Islam sebagai agama yang sempurna sudah banyak mengatur  segala sesuatu yang menyangkut hidup dan kehidupan. Tentu saja termasuk soal rihlah atau bepergian.

Dalam Al-Quran banyak dijumpai seruan untuk melakukan rihlah. Allah Subhanahu wata’ala berulang-ulang mendorong hamba-Nya untuk berjalan di bumi ini agar dapat melihat keagungan ciptaan dan kebeseran Allah Yang Maha Pemurah. Kita juga diserukan untuk memperhatikan bukti-bukti yang nyata dan sejarah umat-umat terdahulu agar bisa memetik permata hikmah.

“ Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ankabut: 20)

Selain ada pada ayat yang disebut di atas, seruan melakukan perjalanan atau rihlah antara lain ada di Surat Ali Imran: 137, Al-An’am : 11, A-Nahl: 36, An-Naml: 69, Ar-Ruum: 42, dan sebagainya.

Jadi bepergian di mana saja itu sah-sah saja. Namun bepergian dalam Islam mestinya memiliki sasaran yang mulia dan penuh arti. Antara lain, jadikan bepergian sebagai wujud tafakur akan penciptaan langit dan bumi. Dalil soal ini bisa disimak pada Al-Quran Surat Ali Imran: 190-191, Ar-Ra’du: 4, Al-Mukmin: 57, Yusuf: 109, Yunus: 101. Jika ada orang yang rihlah di tempat wisata lalu berbuat maksiat itu namanya tidak memiliki sasaran yang terpuji. Bepergiannya malah mengundang dosa dan merugikan orang lain dan diri sendiri.

Selain itu, jadikan aktivitas bepergian kita untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. Di dunia, kita bisa meraih berbagai kenikmatan dari Allah, seperti rezeki yang melimpah dan ilmu yang bermanfaat. Di akhirat kelak, kita juga mendapatkan balasan yang amat nikmat. Lain halnya jika bepergian untuk berbuat maksiat. Di dunia tak mendapat manfaat, di akhirat mendapat siksa berat.

Kemana kita bepergian memang harus jelas arah dan tujuannya. Jika tidak, langkah kita bisa melenceng dan sia-sia. Ada yang bepergian untuk melaksanakan kegiatan keagamaan seperti mencari ilmu, ke masjid, bersilaturahmi, naik haji, dan sebagainya. Jika ada pelajar pergi ke sekolah, mestinya ke sekolah betulan dan segera pulang setelah pelajaran usai. Jangan malah kluyuran tidak karuan atau bermain kemana-mana. Jika memang tujuannya utuk bersilaturahmi pada saudara mestinya benar-benar bersilaturahmi yang penuh makna. Jangan malah terjerat dalam bincang-bincang yang tak berguna. Atau malah menggunjing orang lain seenaknya.

Bepergian untuk kemaslahatan duniawi sering juga kita lakukan. Bekerja di kantor, bertani di sawah, berdagang di pasar, dan bermacam-macam urusan. Lakukan segala kegiatan dengan penuh kesungguhan. Pergi untuk bermusyawarah, berdakwah, berbagi sedekah, dan seterusnya juga harus dilakukan dengan sebaik-baiknya dan penuh perhitungan.

Jika melakukan rihlah untuk tujuan berwisata, piknik, rekerasi, atau apapun sebutannya, kita harus sungguh-sungguh memperhatikan rambu-rambunya. Wisata pun penuh makna, berpahala, dan tidak mengundang dosa. Kita prihatin, masih banyak orang yang saat rekerasi lalu lupa diri, lalu betbuat dosa. Tak heran jika kemungkaran dan kemaksiatan kerap terjadi di tempat wisata. Ada yang berbuat jahat dan maksiat semaunya. Ada juga yang berani meninggalkan shalat saat berwisata.    

Ada beberapa etika yang harus diikuti ketika kita akan melakukan perjalanan atau bepergian, apapun tujuan dan bentuknya. Dengan demikian kita dapat memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat sana.

Menurut Ustadz Abdul Hakim Ash-Sha’idi dalam kitabnya Rihlah Fil Islam, etika umum rihlah dalam Islam antara lain: niat utama mencari keridhaan Allah Subhanahu wata’ala, dilakukan dengan ikhlas, berdoa kepada Allah agar selalu diberi kesabaran, lapang dada, dan terjauh dari gangguan manusia dan pihak lainnya.

Lebih jauh dijelaskan, sebelum rihlah, disunnahkan shalat 2 rakaat menjelang pergi. Juga mengambil pembimbing jika diperlukan dan melihat segala sesuatu dengan cermat dan hati-hati. Memperbanyak kebaikan dan menjauhi perbuatan yang kurang terpuji. Demikian di antara etika yang harus ditaati.

Yang lebih penting lagi, kita harus selalu menjaga ketaqwaan saat bepergian. Prinsipnya tetap bertaqwa di mana saja, tetap beriman di segala keadaan.

”Bertaqwalah kamu kepada Allah di manapun kamu berada….” (HR. Tirmidzi).

Jangan lupa, kita harus selalu menghiasi diri dengan akhlak mulia ketika bepergian ke mana saja. Bersikap tawadhu’ (rendah hati), sabar, tidak mudah marah, menjaga pandangan, menjaga lisan, dan sebagainya. Dengan demikian aktivitas bepergian menjadi aman dan nyaman, tiada rintangan yang melanda, tak ada hambatan yang menimpa, tiada kesulitan yang menerpa.

Selamat bepergian, semoga mendapat banyak keutamaan. Langkahkan kaki meraih ridha ilahi. Langkahkan kaki nan penuh arti! (*)

Mas Sutrisno

sutrisnokuntum@gmail.com

WA.081328795546


Like it? Share with your friends!

77

Tetap Bertaqwa di Mana Saja

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: