Mari Jaga Hati, Agar Hidup Tak Merugi!


Cara-Mengatasi-Penyakit-Jantung-Secara-Alami”Ketahuilah, di dalam jasad manusia ada suatu ’mudghah’ (segumpal daging). Apabila kondisinya baik, akan baik pula semua jasad (manusia).

Apabila kondisinya memburuk, akan buruk pula semua jasad.

Ketahuilah, ’mudghah’ itu adalah hati.” (Hadits Riwayat Muslim)

Beruntunglah kita dikaruniai hati. Inilah salah satu anugerah berharga dari Ilahi yang harus selalu disyukuri. Berkat keistimewaan hati, manusia bisa memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibanding makhluk lain di langit dan bumi. Hati yang suci akan mengantarkan manusia meraih ridha Allah Yang Maha Tinggi. Sebaliknya, hati yang terkotori bisa membawa manusia ke lembah nista yang dibenci Ilahi. Hidup pun akan merugi.

Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam sudah menggambarkan bahwa hati menjadi kunci baik-buruknya manusia. Jika hatinya baik, insya Allah baik juga seluruh jasad: segala yang dikerjakan anggota tubuh manusia akan baik adanya. Ringkasnya, jika hati baik maka segala amal dan akhlaknya mulia. Sebaliknya, jika hatinya buruk akan buruk pula amal dan akhlak manusia.

Tentu saja hati manusia tidak sekadar hati jasmani berupa gumpalan daging yang bulat memanjang yang ada di dalam dada ini. Hati manusia juga sesuatu abstrak dan bersifat ruhaniah yang sulit ditembus kemampuan indrawi. Jika Nabi menyebut hati sebagai ’mudghah’ (segumpal daging) itu sebagai simbol bahwa hati ’ruhani’ terletak di situ, di hati jasmani. Ibarat menempelnya sifat pada benda yang disifati.

Hati ibarat panglima. Meski seorang diri, sang panglima bisa menggerakkan ribuan bahkan ratusan ribu prajuritnya. Semua pasukan akan  tunduk pada panglima. Jika panglima bilang, ”Serbu!”…pasukan pun menyerbu apa yang ada. Saat panglima berteriak ”Mundur!” para pasukan pun akan mundur dari medan laga. Bagaimana jika sang panglima salah memberi komando atau aba-aba? Jelas kacau jadinya.

Hati adalah panglima. Apa yang dikomandokan hati akan dituruti seluruh anggota badan kita.  Hati adalah pengatur stabilitas anggota tubuh manusia. Ada syair yang sudah kondang di tengah masyarakat yang menggambarkan betapa hati bisa mempengaruhi hidup kita. ”Bila hati kian bersih, pikiran pun selalu jernih, semangat hidup kan gigih, prestasi mudah diraih.” Bagaimana jika sebaliknya? ”Tapi bila hati busuk, pikiran jahat merasuk, akhlak pun kian terpuruk, dia jadi makhluk terkutuk.

Syair yang sering dilantunkan seorang dai kondang itu juga menyebutkan: ”Bila hati kian lapang, hidup susah tetap senang, walau kesulitan menghadang, dihadapi dengan tenang.  Tapi bila hati sempit, segalanya jadi rumit, seakan hidup terhimpit, lahir batin terasa sakit.”

Hati memang menjadi sumber berbagai hal. Bahagia atau senang sumbernya di hati. Tak heran jika ada orang bilang, ”Hatiku bahagia, hatiku senang.” Begitu juga dengan sedih atau menderita. Ada yang mengeluh, ”Hatiku sedih, hatiku menderita.” Iman pun diawali dengan keyakinan di hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan anggota badan.

Karena peranan hati yang sangat penting, kita pun harus berhati-hati menjaga hati. Mari kita jaga agar hati selalu bersih dan suci. Kita rawat hati agar selalu dipenuhi keimanan pada Ilahi. Selalu bersyukur dan berserah diri. Hati yang tidak terawat akan mudah tercemari dan terkotori. Jika hati kotor, penyakit hati akan senang menghinggapi.

Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam menggambarkan macam-macam hati manusia. Termasuk yang manakah hati kita?

”Hati itu ada empat macam: (1) hati yang bersih dan bersinar bagaikan lampu; itulah hati orang Mukmin, (2) hati yang hitam terbalik (dari fitrahnya); itulah hati orang kafir, (3) hati yang terbungkus rapat (sulit menerima hidayah); itulah hati orang munafik, (4) hati yang berisi campuran antara iman dan kemunafikan.” (HR. Ahmad).

Kita harus berusaha sungguh-sungguh dalam menjaga kesucian hati. Jika tidak dijaga, hati orang beriman pun bisa terancam menjadi kotor seperti hati orang kafir, munafik, dan orang-orang yang berpenyakit hati. Ingat, setan ikut ’bermain’ dalam mengotori hati.

Menjaga kebersihan hati bisa kita lakukan dengan terus mempertebal iman. Kita berusaha untuk selalu menjadi orang beriman di segala keadaan. Jangan lupa, kita juga selalu bertawakal kepada Allah di setiap kesempatan. Orang yang selalu beriman dan bertawakkal tidak akan mudah dibujuk rayu setan. Sebaliknya, setan akan menjadikan budak bagi manusia yang selalu menuruti godaan setan dan berbuat kesyirikan.

”Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (QS. An-Nahl: 99-100).

Kita pun mesti memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Semoga kita terhindar dari segala tipu daya dan bujuk rayu setan yang terus menggoda. Semoga terjauh dari setan yang biasa membisikkan kejahatan di dalam hati manusia.

[1] Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.  [2] Raja manusia.[3] Sembahan manusia.[4] dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, [5] yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” (QS. An-Naas: 1-5).

Agar hati selalu bersih, kita harus berusaha membersihkan diri dari berbagai penyakit hati yang tiada terpuji. Kita sikat segala sifat tercela, seperti suka menghina, dendam, mudah marah, serakah, malas, dan iri-dengki. Kita harus waspada agar hati tidak terjangkiti sikap sombong, suka bohong, kikir, tamak, khianat, gemar menipu, dan ingkar janji.

Sudah seharusnya kita berhati-hati menjaga hati. Kita singkirkan penyakit yang menggeroti. Kita buang sifat buruk sangka, suka tergesa-gesa, putus asa, riya’, terlalu cinta dunia, dan rendah diri. Kita hancurkan kebiasaan suka berlebihan, berkeluh kesah, bergaul dengan pelaku maksiat, menunda amal kebaikan, suka mengunjing, dan keras hati.

Sekecil apapun, kemaksiatan mesti kita hindari. Jika tidak, jelas akan mengotori hati dan menutup hati dari cahaya Ilahi.

”Apabila dilakukan terus menerus, dosa akan mengunci (menutup) keseluruhan hatinya (dari menerima hidayah).” (HR. Ahmad).

Mari bersih-bersih hati setiap hari. Menjaga hati agar tetap suci dan diridhai Ilahi. Insya Allah hidup pun terasa nikmat sekali. (*)

Mas Sutrisno

sutrisnokuntum@gmail.com    

Mari Jaga Hati, Agar Hidup Tak Merugi!

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: