Lisan Tak Terjaga Mengundang Celaka


Fasting

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (Al-Quran Surat Al-Ahzab: 70)

Sungguh beruntung menjadi orang yang beriman. Allah Subhanahu wata’ala banyak memberikan perhatian kepada orang-orang yang beriman. Buktinya, di banyak ayat Al-Quran, Allah kerap memberikan sapaan penuh kemuliaan.  Yaa ayuhalladziina aamanu….(Hai orang-orang yang beriman).

Setelah ada sapaan mesra, Allah lalu memberikan perintah, peringatan, anjuran, atau apapun namanya, yang intinya adalah berupa kesempatan untuk berbuat kebaikan dan meraih kemuliaan. Di antaranya, orang-orang yang beriman diperintahkan untuk selalu bertakwa di setiap tempat dan kesempatan. Intinya: ya menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang menjadi larangan.

Dalam Surat Al-Ahzab: 70, Allah memerintahkan kita untuk selalu bertakwa dan mengucapkan perkataan yang benar atau lurus (qaulan sadidan). Apa yang kita ucapkan selalu bernilai kebaikan. Semua didasari dengan ilmu dan bisa dipertanggungjawabkan. Tidak ada perkataan yang sia-sia, apalagi berbau kebohongan. Pokoknya, kita mesti berhati-hati dalam menjaga lesan.

Lesan adalah salah satu anggota badan kita yang paling banyak  beraktivitas setiap harinya. Mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga menjelang tidur di tengah malam, lesan terus banyak digunakan sedemikian rupa. Untuk itu kita harus pandai-pandai dalam mengendalikan lesan kita. Dari lisan yang terjaga akan membawa banyak manfaat dan pahala. Sebaliknya, dari lisan yang tidak terjaga akan timbul bahaya yang bisa menimpa diri sendiri dan siapa saja. Dan yang pasti akan membawa dosa.

Dari lesan orang bisa meraih derajat yang mulia. Dari lesan pula orang bisa terjatuh dalam lembah yang hina. Lesan bisa membuat orang disuka, bisa juga dicela.

Menjaga lesan adalah kewajiban. Apa yang meluncur dari lesan seseorang bisa menjadi ukuran tingkat keimanan. Ucapan orang berimnan selalu penuh kebaikan. Sebaliknya, yang lemah iman perkataannya penuh keburukan.

”Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu: Sesugguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, kunci menjaga lesan hanya dua: berkata yang baik atau diam. Bagaimana jika bisik-bisik? Kembali kepada kunci dari Nabi. Kalau bisik-bisiknya tentang kebaikan ya silakan. Misalnya bisik-bisik mengajak ngaji atau belajar bersama. Tapi jika bisik-bisiknya untuk menggunjing  orang itu jelas dilarang.

Begitu juga soal berteriak lantang. Jika sesuai situasi, kondisi, dan keperluan itu tidak dilarang. Misalnya berteriak karena sedang adzan atau memberikan aba-aba saat uotbond di tanah lapang. Atau berteriak untuk menggertak pelaku maksiat yang datang. Yang dilarang itu jika kita berteriak-teriak untuk menghina orang. Atau bersuara keras sehingga membuat lingkungan tidak tenang.

Rasulullah Shalallahu ’ alaihi wasallam berani memberikan jaminan masuk surga bagi manusia istimewa. Yaitu orang yang bisa menjaga lesan dan kemaluannya. (HR. Muttafaqun ’Alaih). Sebaliknya, Nabi juga mengingatkan bahwa orang yang mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan bisa menggelincirkan dia ke dalam neraka. (HR Muttafaqun ’Alaih).

Yang pasti, lesan yang tidak terjaga bisa mengundang celaka. Banyak terjadi perkelahian pelajar antarsekolah hanya karena fitnah yang keluar dari lesan seorang siswa. Kadang terjadi tawuran antarkampung yang dipicu oleh kedengkian yang muncul dari lesan seorang warga.

Bagaimana agar lesan selalu terjaga? Semua diawali dengan menjaga kebersihan jiwa. Membersihkan hati adalah upayanya. Sebenarnya apa yang diucapkan seseorang itu menggambarkan isi hatinya. Jika hatinya bersih maka kata-kata yang diucapkan adalah baik dan pasti bermakna. Sebaliknya, kata-kata yang kotor dan tanpa makna akan mudah sekali meluncur dari mulut orang-orang yang kotor hatinya.

Persoalan menjaga lesan juga menyangkut soal kebiasaan. Kalau kita berusaha selalu berkata yang baik dan benar, insya Allah kita akan terbiasa dengan perkataan yang baik dan membawa kemanfaatan. Rasanya sangat berat untuk mengucapkan kata-kata jelek dan tidak beraturan. Adapun orang yang sudah terbiasa mengucapkan perkataan buruk dia akan enteng saja berkata yang jorok dan jauh dari kebaikan.

Mari kita berusaha membiasaan diri dengan kalimah thayibah (kata-kata yang baik). Jika akan mengerjakan sesuatu biasakan membaca Bismillah. Setelah selesai ya Alhamdulillah. Mendapat nikmat: Alhamdulillah. Jika berjanji jangan lupa mengucap Insya Allah. Berbuat salah segera mengucapkan Astaghfirullah. Saat bersin membaca Alhamdulillah, ketika ada musibah mengucap Innalillahi wainna ilaihi raaji’uun. Begitu seterusnya.

Bagi orang yang terbiasa dengan kata-kata yang buruk, maka akan berat rasanya jika harus mengucap kalimah thayibah. Malahan dia akan terasa ringan mulutnya saat mengucapkan kata-kata jorok, tanpa makna, dan bikin gerah. Memanggil orang dengan nama hewan dianggap hal yang lumrah. Mengumpat sambil menyebutkan alat kelamin seperti tiada masalah. Na’udzubillah.

Orang-orang yang beriman selalu menjaga lesan dengan mengucapkan perkataan sesuai dengan situasi dan kondisi. Harus pandai memilih dan memilah kata-kata yang diucapkan. Kata atau kalimat yang sebenarnya biasa saja… di mulut orang tidak beriman bisa turun derajatnya menjadi kata atau kalimat tercela.

Jika ada pertanyaan, kata anjing itu kata yang baik atau jelek, jawabannya tergantung orang yang mengucapkan. Jika orang beriman pasti akan mengucapkan kata anjing sesuai tempat dan keadaan. Tapi bagi yang tidak menjaga lesan, kata anjing sering dipakai untuk memanggil teman. Ada juga yang menggunakan istilah binatang haram itu untuk memarahi orang.

Kita prihatin, hingga kini masih banyak orang yang tidak bisa menjaga lesan dengan indah. Akibatnya, lesan sering digunakan untuk berkata yang saru, berdusta, ghibah, dan fitnah. Ada juga orang yang  mengunakan lesan untuk mencela orang, mencari-cari kesalahan, mengadu domba dan sebangsanya. Na’udzubillahi min dzalik.

Mari kita gunakan lesan untuk menyeru kebaikan dan selalu berdzikir kepada Allah.

”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan berkata: ’Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’?” (QS. Fushilat: 33)

Selamat menjaga lesan, semoga meraih banyak kemuliaan dan terjauh dari kehinaan. (*)

Sutrisno

(sutrisnokuntum@gmail.com)

Lisan Tak Terjaga Mengundang Celaka

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: