Jangan Biarkan Hidup Kita Bertabur Kedzaliman


Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim.”   (QS. Ali Imran: 57)

Dibenci teman bikin persahabatan tidak nyaman. Dibenci guru bisa bikin malu. Dibenci tetangga mengundang sengsara. Dibenci atasan menghambat prestasi dalam pekerjaan. Dibenci bawahan berpotensi menimbulkan penentangan. Dibenci pasangan memancing perceraian. Begitu seterusnya.

Bagaimana jika yang membenci adalah Allah Yang Maha Tinggi? Jelas-jelas kita akan rugi besar sekali. Dibenci Ilahi menjadikan hidup ini tiada berarti. Hidup sekali bagai tiada berprestasi. Sebaliknya, jika kita selalu dicintai Ilahi, hidup akan terasa nikmat sekali.

Di dalam Al-Quran sudah banyak dijelaskan tentang siapa saja yang dicintai Allah Subhanahu wata’ala. Antara lain disebutkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa (QS. Ali Imran: 159), mereka yang sabar (Ali Imran: 146), orang-orang yang berlaku adil (Al-Maidah: 42), mereka yang berperang pada jalan-Nya (Ash-Shaf: 4), dan sebagainya.

Allah pun sudah tegas-tegas mengumumkan tentang orang-orang yang tidak disukai-Nya. Mereka yang dibenci Allah adalah yang suka berbuat dzalim (Ali Imran: 57), suka sombong (An-Nisa’: 36), membuat kerusakan (Al-Maidah: 64), dan seterusnya.

Lalu, benarkah kita sudah termasuk orang-orang yang dicintai-Nya? Atau jangan-jangan kebanyakan kita masuk ke dalam golongan mereka yang dibenci Sang Pencipta? Mari kita membaca diri dengan seksama. Seterusnya, kita berikhtiar sekuat daya untuk dapat merebut cinta-Nya. Kita harus waspada agar tidak terjerumus dalam barisan orang yang tidak disukai Allah Yang Kuasa.

Yang memprihatinkan, masih banyak orang yang merasa diri mereka ”baik-baik”saja padahal mereka termasuk yang dibenci Allah. Untuk itu, tidak ada salahnya jika kita mengenal di antara tanda-tanda orang yang dibenci Allah.

Di antara orang yang tidak disukai Allah adalah orang dzalim. Seperti kata Allah, ”…Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim. (Ali Imran: 57). Allah pun mengancam mereka yang dzalim dengan azab yang pedih. Apa yang dimaksud dengan dzalim? Secara praktis dapat dipahami, dzalim adalah melakukan sesuatu atau menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dzalim juga dimaknai sebagai berbuat aniaya. Allah sudah banyak menjelaskan tentang tanda-tanda atau bentuk-bentuk kedzaliman. Apa saja?

Pertama, syirik adalah bentuk kedzaliman yang besar.

”Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzoliman yang besar”.  (QS. Lukman: 13).

Kita harus waspada, kini ajakan berbuat kesyirikan terus merajalela. Hampir setiap hari televisi mencekoki masyarakat dengan hal-hal yang bisa menggoyahkan iman dan menyeret pada kesyirikan yang berlumur dosa. Mulai dari iklan meramal nasib dan peruntungan, acara reality show, film, sinetron, musik, berita, humor, dan sebagainya. Banyak media cetak pun tidak mau ketinggalan untuk menyajikan hal-hal berbau syirik dengan gegap gempita. Jika kita sampai terpengaruh apa yang dipropagandakan media, bisa berbahaya akibatnya.

Kita prihatin, di tengah masyarat kita hingga kini masih berkembang adat-istiadat, tradisi, atau kebiasakan yang bernuansa syirik. Tradisi itu menyusup dalam upacara pernikahan, kelahiran bayi, kematian, membangun rumah, dan sejumlah kegiatan yang cukup asyik. Kita harus berani menjauhi dan meninggalkan hal-hal yang jelas tidak baik. Juga mengingatkan mereka yang masih melestarikan tradisi syirik. Menasehati mereka yang berpikiran picik. Dengan begitu, mudah-mudahan kita tidak terjebak dalam kedzaliman yang besar.

Kedua, termasuk kedzaliman adalah menolak seruan dakwah. Masih banyak orang yang tidak mau diajak kepada kebaikan bahkan mereka malah memerangi dan memusuhi para juru dakwah. Itulah orang-orang dzalim. Tentang penolakan terhadap dakwah diceritakan dalam Quran Surat Ibrahim: 14-15. Di ayat tersebut Allah mengancam: ”Sungguh Kami akan menghancurkan orang-orang dzalim itu.”

Hati-hati ketika bertemu orang yang alergi ketika diajak ngaji. Ada juga yang bilang bosan saat diajak ke pangajian. Diberi seruan dakwah malah membantah. Diingatkan untuk shalat malah melanjutkan berbuat maksiat. Dimotivasi agar mau mau berinfak malah mernolak. Bisa jadi mereka terjebak dalam golongan orang-orang dzalim.

Ketiga, mencaci maki, mencela, atau menghina juga termasuk kedzaliman.   

”Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.  Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.  (QS. Al-Hujuraat: 11).

Suka mencari-cari kesalahan orang Muslim dan menggunjingkannya juga termasuk kedzaliman lho. Ingat Surat Al-Hujuraat: 12 ya!

Sayang sekali, tradisi suka mencacai maki kini semakin marak dipertontonkan di televisi. Kebiasaan suka menghina sering ’diajarkan’ oleh berbagai media. Kegiatan mencari-cari kesalahan orang dan gemar menggunjing dipraktekkan di mana-mana. Ghibah kini dianggap menjadi kegiatan berfaedah. Menggunjing pun dijadikan sebagai acara penting. Semua itu sungguh bisa mengantarkan kita dalam golongan orang-orang dzalim yang dibenci Allah. Dibenci Allah Yang Pengasih siapa yang mau?

Sutrisno

(sutrisnokuntum@gmail.com)


Like it? Share with your friends!

95

Jangan Biarkan Hidup Kita Bertabur Kedzaliman

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: