Tendangan Tekad Bulat


fiksi 1

Adikku menatap nasi yang bercecer di lantai ketika ayah memarahinya. Sedangkan aku pura-pura tak mendengarkan. Sesekali melirik adikku yang hanya mampu menunduk. Dari raut wajahnya, dapat kulihat kalau dia sedang menahan emosi.

Seusai menyeterika dan menaruh baju adikku di lemari. Mataku terbelalak melihat sebuah piala berukuran besar menghiasi lemari kamarnya. “Juara 1 Lomba Sepak Bola,” kubaca tulisan yang tertera di kaki piala. Ternyata ayah memarahi adikku, karena ia mengikuti lomba ini. Tiba-tiba terlintas sesuatu di pikiranku. Sebuah ingatan saat ayah membakar sepatu bola milik adikku pemberian paman, sebelum meninggal. Tanpa kusadari, air mataku menetes, karena mengingatnya.

“Mbak, boleh minta tolong, nggak?” adikku menepuk pundakku pelan.

“Emang mau minta tolong apa?” jawabku.

“Mbak, boleh pinjem duit nggak?”

“Hah..!!! buat apa?”

“Ada lah mbak. Pliiisss mbak!! 50.000 aja. Mbak, kan, punya duit banyak tuh. Sesama saudara harus saling tolong menolong mbak.” ucapnya memelas.

“Hhhmm,” aku menimang. “Boleh deh, tapi ada syaratnya. Anterin mbak ke sekolah ya! Soalnya rantai sepedaku putus. Bagaimana?”

“Oke, Siap! Makasih, Mbak!!”

***

Akhir-akhir ini, aku merasa ada yang aneh dengan adikku. Ia jadi sering pulang terlambat, semenjak meminta uang padaku. “Biasanya, adikku menyimpan sesuatu di lemarinya,” pikirku. Aku segera menuju kamarnya dan mengubrak-abrik lemari. Ternyata benar. Ada kardus sepatu bola tersimpan. Mungkin, ia membeli sepatu baru.

Pikiranku langsung tertuju pada ayah. Ia selalu pulang lewat lapangan yang sering digunakan adikku bermain sepak bola dengan teman-temannya. Kutenangkan pikiranku dengan membuat secangkir teh anget. Tiba-tiba saja, kudengar suara ribut di luar. Suara yang memaksaku untuk beranjak menghampirinya.

“Kamu nggak punya kuping?? Udah dibilangin berkali-kali, kok masih dilakuin. Kalo kamu nggak buang sepatu itu. Keluar aja dari rumah ini,” bentak ayah kasar.

Wajahku pun dipenuhi ketakutan. Melihat amarah Ayah.

“Raffi!! Masuk, fi!” bisikku pelan melalui celah pagar tempat ku mengintipnya. Adikku pun beranjak masuk lewat pintu belakang.

Di depan rumah, ayah tengah mencabik-cabik sepatu bola dengan sabit. Sementara itu, aku menghampiri adikku yang tengah duduk meringkuk di dalam kamar sambil menyeka darah yang keluar dari bibirnya.

“Aku benci ayah, mbak!”

Aku mengelus kepalanya yang tengah duduk lemas.

“Meski ayah bersikap seperti itu, bukan berarti ia membencimu. Justru itulah tanda ia sayang padamu. Ayah pernah cerita pada kakak. Saat masih kecil dulu, ia juga bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Namun, mimpinya ditentang habis-habis oleh kakek. Meski begitu, Ayah tetap ngotot dan terus melanjutkan usahanya dalam mewujudkan cita-cita. Tapi, di tengah perjalanan, Ayah justru mengalami kecelakaan berat yang membuyarkan mimpinya itu. Itulah alas an kenapa ia menghalangimu. Ayah tak ingin kau mengalami kejadian serupa,” Jelasku.

“Meskipun ayah tak mengizinkanku untuk jadi pemain sepakbola. Aku membuktikan bahwa aku bisa dan suatu saat nanti aku kan membuatnya bangga dan kagum padaku,” ujar adikku mantap.

Aku pun memeluknya erat. Air matanya perlahan menetes.

Athalla Rania Putri

SMP Muhammadiyah Pakem, Yogyakarta.


Like it? Share with your friends!

71

Tendangan Tekad Bulat

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: