MURI Mampir ke Jogja


IMG_9609

Ribuan pasang bola mata jadi saksi bisu pecahnya rekor muri daur ulang sampah Kota Pelajar.

Minggu pagi (8/3) lalu, sepanjang jalan Margo Utomo dipadati oleh ribuan masyarakat mulai dari anak-anak, pelajar, hingga orang tua. Ada satu agenda besar yang dilakukan saat itu, yakni buat kerajinan tangan dari daur ulang sampah plastik. Dalam hidup sehari-hari, kita emang nggak bisa lepas sama yang namanya produksi sampah. Hingga pada Car Free Day (CFD) Toegoe Jogja Festival tersebut dimanfaatkan oleh Media Kedaulatan Rakyat untuk memecahkan rekor MURI. Pemerintah Kota Yogyakarta, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Yogyakarta dan Dinas Pendidikan pun kampanyekan daur ulang sampah jadi kerajinan tangan sekaligus pemecahan rekor muri.

“Pemecahan rekor muri ini, sebenarnya berawal dari adanya program bulan sampah yang dicanangkan oleh Pemerintah Yogyakarta tahun ini. Salah satu implementasinya dengan daur ulang sampah plastik jadi kerajinan tangan atau barang yang bernilai,” papar Pak Irfan Susilo selaku kepala BLH Yogyakarta saat buka acara pemecahan rekor muri.

IMG_9347

Nggak heran, Sob. Sekitar 2.100 massa dikerahkan demi beritahu masyarakat luas, bahwa sampah plastik itu bisa didaur ulang jadi sesuatu yang menarik dan berharga. “Sebelumnya, daerah yang pernah meraih rekor ini adalah Purbolinggo dengan peserta sampai 1190 orang. Kali ini, kita bikin rekor baru sampai 2100 orang yang berasal dari komunitas Bank Sampah dan sekolah-sekolah rintisan Adiwiyata atau Sekolah berwawasan lingkungan hidup,” imbuh Pak Irfan.

Salah satu pelajar bernama Yuriko asal SMAN 6 Yogyakarta yang ikut serta dalam pemecahan rekor muri tersebut pun merasakan keseruan acaranya. “Seru banget! Lewat momen ini, aku jadi bisa lebih peduli lagi dengan yang namanya sampah. Sama lebih kreatif dalam mengolah atau mengkreasikannya,” curhatnya.

Nggak cuma mainan sampah

Keseruan nggak berujung pada pemecahan rekornya aja. Masih banyak hiburan yang disuguhkan panitia. Mulai dari senam sehat selama satu jam, pertunjukan seni angklung oleh pelajar SD, fashion show dengan memakai pakaian daur ulang sampah plastik, hingga penampilan seni tari-tarian tradisional ala modern oleh komunitas tari di Jogja.

IMG_9310

Belum lagi beberapa spot menarik di sekitarnya. Bikin tambah “kerasan” alias betah berjam-jam. Seperti Wayang Poo Tay Hee dari Komunitas Senjoyo Budhoyo. Pertunjukkan yang angkat cerita dari film Kera Sakti dan bikin anak-anak hingga remaja fokus menyaksikannya.

Ada juga spot yang jualan batu antik nan kuno seperti akik dan sejenisnya. Sehingga pengunjung bisa kenal dan koleksi batu itu. Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Yogyakarta pun nggak mau kalah dengan membuat spot peminjaman buku bacaan gratis yang dipajang atau dijejer di bagasi mobil. Sehingga pengunjung bisa duduk sambil asyik baca.

Nah, spot Majalah Kuntum lah yang paling seru. Soalnya ada lomba mewarnai Mang Kunteng buat anak TK dan SD. Puluhan anak antusias dengan kreasinya yang “apik” dengan crayon. “Acaranya keren banget. Aku paling antusias pas nonton Wayang Poo Tay Hee. Apalagi acaranya gratis dan rutin tiap hari Minggu awal bulan. Udah gitu gonti-ganti format acaranya, nggak bakal bosen deh dateng ke Toegoe Jogja Festival. Paling nggak harus selfie disini,” tutup Rizki, siswa SMPN 10 Yogyakarta, dengan bangga.

Nah, daripada mecahin gelas di dapur. Mending mecahin rekor MURI kayak acara ini. Seru banget, deh, pokoknya! (Rasyid)

MURI Mampir ke Jogja

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: