Luka si Bocah Pengamen


fiksi

Adzan Isya telah berkumandang. Hiruk pikuk orang-orang masih memadati jalan raya kota Jakarta. Najma mendengus kesal karena sudah 2 jam ia terjebak dalam kemacetan di daerah Cempaka Putih. Bus yang ia tumpangi sudah penuh sesak, bersyukur ia mendapatkan tempat duduk sehingga dapat bernafas lega dari himpitan dan bau kecut keringat orang-orang yang telah memadati bus yang ia tumpangi. Perlahan ia mengeluarkan sebotol air putih lalu meminumnya, ia selalu membawa sebotol air putih kemanapun ia pergi.

Tiba-tiba telepon genggamnya bergetar, sengaja ia set silent agar bunyi telepon dan sms tidak mengganggu penumpang yang lain. Ia melihat ada sms dari nomor yang ia kenal dan tidak lain adalah ibunya. Dengan tersenyum, ia cepat membalas sms dari ibunya. Ia sudah menyiapkan buah tangan 2 bungkus ayam bakar untuk keluarganya.

“PASAR REBO… PASAR REBO…” Sang kondektur mengetukkan dinding pintu bus yang mengisyaratkan bus sudah sampai di Pasar Rebo. Najma terhenyak dan bersiap untuk turun di Pasar Rebo.

Najma gelisah melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Ia masih menunggu angkot jurusan Cimanggis, dan ia belum mendapatkannya. Najma berinisiatif mencari warung di sekitar Pasar Rebo untuk membeli permen, dan ia menemukannya. Najma tertegun melihat seorang bocah yang sedang duduk termangu di trotoar samping warung dengan wajah lusuh dan muram.

Setelah membeli beberapa bungkus permen, Najma menghampiri dan duduk di sebelah bocah tersebut. Setelah menyapa dan memberikan beberapa permen kepada bocah tersebut, Najma mengetahui bahwa bocah tersebut bernama Iyan, ia telah kehilangan uang hasil mengamennya. Ia ragu kembali pulang ke rumah karena takut dipukul oleh ibu tirinya.

Iyan masih duduk dibangku sekolah dasar. Tahun depan ia akan mengikuti Ujian Nasional. Ia mengamen demi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Ibu kandungnya sudah meninggal sejak ia berusia tiga tahun karena kanker. Ayahnya, seorang supir truk, menikah lagi dengan janda beranak tiga. Setelah Iyan duduk di kelas empat, ayahnya meninggal karena kecelakaan. Selang beberapa bulan setelah kematian ayahnya, ibu tirinya menikah lagi dengan preman pasar. Semenjak itu ibu tirinya sudah tidak peduli lagi dengan Iyan, bahkan menyuruhnya bekerja. Ayah tirinya juga demikian. Apabila penghasilan yang ia dapat kurang atau bahkan tidak membawa sama sekali, Iyan dipukul oleh ayah tirinya menggunakan kayu sampai badannya biru lebam, bahkan berdarah.

Bocah tersebut juga mengatakan ia selalu menjadi juara kelas. Ia bercita-cita ingin menjadi dokter. Gurunya mengupayakan agar ia terus sekolah dan terus berusaha meluluhkan hati ibu tirinya meskipun sangat sulit. Di sekolah, Iyan mendapatkan beasiswa. Walaupun demikian, ia sadar dengan kondisi keluarganya sekarang, tak mungkin ia melanjutkan pendidikan setelah lulus sekolah dasar.

“Saya ingin sekali pergi dari rumah, Kak. Saya udah ga tahan lagi. Saya ingin pergi jauh dari kota ini,” kata Iyan sambil menyeka air matanya. Najma tersenyum dan merangkulnya.

“Aduh, Kak, sakit,” rintih Iyan mengaduh kesakitan di badannya. Najma terkejut, dia langsung membuka sebagian baju bocah tersebut. Ternyata benar apa yang dikatakan Iyan, di punggungnya banyak sekali bekas pukul dan terdapat luka di mana-mana.

“Dik, kebetulan dosen kakak waktu masih kuliah di Jogja, sudah lima belas tahun menikah, tetapi sampai saat ini tidak mempunyai anak. Saat ini dia sedang mencari anak untuk bisa diasuhnya. Adik mau ke Jogja? Nanti biar kakak yang mengurus kepindahannya adik di sekolah tanpa orang tua adik yang sekarang tahu. Itu pun kalo adik bersedia,” ujar Najma tersenyum.

“Ini bukan penculikan kan, Kak? “ Tanya Iyan dengan polos.

“Haha, apakah kakak ini ada tampang seorang penculik? Tanya Najma mengerling nakal. Iyan tersenyum, meski masih dengan raut wajah sedih.

“Dik, mau ikut pulang ke rumah kakak nggak? Daripada kamu pulang ke rumah, nanti kamu dipukuli lagi,” tanya Najma sambil memegang tangan Iyan.

“Iya, mau, Kak,” kata Iyan sambil tersenyum setelah lama berpikir.

Setelah menyetop angkot dan menaikinya, Najma tertegun sambil memandang Iyan yang sedang terkantuk-kantuk karena hembusan angin yang masuk ke dalam angkot. Ya, bocah tersebut sudah mengambil keputusan yang tepat.

Najma teringat dengan salah satu ayat dalam Al-Qur’an.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka ” (QS 13:11)

“Semoga Allah memberikan pengganti atas segala kesedihan Iyan.” Gumam Najma tersenyum sambil mengelus kepalanya Iyan yang sudah tertidur pulas di angkot.

Haryana Hadiyanti

Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Cimanggis, Depok, Jawa Barat


Like it? Share with your friends!

72

Luka si Bocah Pengamen

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: