Kemerdekaan Indonesia, Ulama dan Pelajar



Sumpah-Pemuda

Kali ini kita akan bicara tentang kiprah kepahlawanan pelajar Muhammadiyah dalam rangka meraih kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia didapat karena tangan-tangan gigih dan berpeluh milik para pejuang. Maka dari itu, patut harus menyambung semangat itu. Pertanyaan adalah, bagaimana cara kita menyambungnya sebagai Umat Islam dan pelajar ? Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasr Ayat 18 yang artinya “Perhatikan sejarahmu untuk hari esokmu”. Maka, langkah pertama adalah belajar dari sejarah.

Bagaimana dengan perjuangan pelajar Indonesia, khususnya para santri dan pelajar sekolah Muhammadiyah saat itu? Sebelumnya, di Kota Sala pada Mei 1945, wakil-wakil pelajar seluruh Indonesia mengadakan rapat rahasia dengan tujuan untuk menumbangkan penjajah. Rapat rahasia itu melahirkan sumpah setia yang diucapkan bersama pada keheningan malam, tepat pukul 24.00. Isinya antara lain, “Kami bersumpah akan berjuang untuk kemerdekaan bangsa, nusa dan tanah air Indonesia. Dan setiap penghalang dan penjajah tanah air kami tentang dan terjang serta kami hancurkan.

Muhammad Arsyad Arifi

Coretan tinta emas sejarah telah menjadi saksi sejarah perjuangan santri dan pelajar Muhammadiyah kala itu. Yakni, dengan dibentuknya Ikatan Pelajar Indonesia pada bulan Oktober 1945 yang berpusat di Yogyakarta. Mengingat  Yogyakarta adalah pusat dari dakwah Muhammadiyah, andil pelajar Muhammadiyah juga amat besar kala itu. Para pelajar di seluruh Indonesia, kebanyakan masuk menjadi anggota IPI dengan membentuk cabang di kotanya masing-masing.

Setelah semua itu, tergugahlah semangat patriotisme dikalangan pelajar. Seketika semangat ini menyebar dan terbentuklah tentara-tentara pelajar di seluruh Indonesia. Hal ini membuktikan jiwa patriot yang amat besar di kalangan ulama dan pelajar, khususnya pelajar Muhammadiyah serta santri saat itu. Bagaimana dengan saat ini? Apakah kita sudah merdeka? Apa karya pelajar Muhammadiyah untuk bangsa saat ini? Sejatinya, kita masih dibelenggu oleh penjajahan, yakni penjajahan moral dan intelektual. Maka dari itu, langkah kedua setelah mengetahui kebenaran sejarah adalah kita harus berjuang hingga titik darah penghabisan menumpas penjajahan moral dan intelektual. Wallahu a’lam bishawab.


 

Muhammad Arsyad Arifi

Kabid Perkaderan Organisasi dan Advokasi

PC IPM Sektor Tengah Kabupaten Sleman

 

Kemerdekaan Indonesia, Ulama dan Pelajar

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: