Jangan Pergi, Keti!


fiksi

Teriknya panas di siang Sabtu membuat Aris hanya bisa bersantai-santai sambil memainkan seekor kucing, Keti namanya. Ia adalah kucing kesayangan Aris. Kucing yang berbulu putih bersih dan bertubuh gemuk. Seperti   biasanya,   kini   sedang   bermain   pasir   di depan pekarangan rumah. Sambil bermain-main terkadang Aris juga menyantap makan siangnya.

“Aris! Makan siangnya jangan sambil mainan kucing, nanti kotor makanannya.” Teriak ibu dari depan pintu rumah, namun tak digubris.

Ibu   hanya   menghela   nafas,   membiarkan   anaknya   yang   tengah bermain kucing kesayangannya itu. Tak lama kemudian, datang sang adik yang juga ingin bermain dengan si Keti.

“Kak Aris, Nita juga pengen ikut main sama Keti. Boleh ya?” Tanyanya sambil   berpegangan dan berayunan dibelakang punggung Aris.

“Ngapain, sih! Tidur aja sana! Ganggu kakak lagi main aja. Keti itu punya Kak Aris.   Yang boleh mainan sama Keti juga cuman Kak Aris.” Jawaban Aris membuat Nita tiba-tiba menangis dengan lantang, selantang suara sang kakak.

Suara tangisan dan bentakan dua bocah itu beradu dengan tangguh. Tiap Aris membentaknya, maka Nita juga membalasnya dengan tangisan yang keras pula. Mendengar suara kedua anaknya sudah banyak menggangu, maka ibu langsung turun tangan untuk   menghentikan pertikaian mereka.

*****

Keesokannya harinya. Meski langit mending, namun tak memengaruhi Aris untuk tetap bermain bersama Keti di lapangan. Mereka asik bermain disana. Hingga hujan membubarkan mereka. Hujan tiba dengan sangat deras dan tiba-tiba. Aris dengan cepat berlari menuju arah rumah walau agak sempoyongan.

Dengan ngos-ngosan dan wajah yang memerah, tibalah ia di rumah. Ibu langsung menghampirinya dan menggantikan baju serta celana Aris dengan cemas. Saat melepas lelah dengan menonton TV sembari menyemil roti dan teh hangat dari Ibu, seketika Aris teringat akan kucing putih kesayangannya yang tertinggal di lapangan. Roti yang baru ia gigit satu bagian itu ia tinggalkan dengan tergesa-gesa untuk menjemput Keti.

“Aris! Kamu mau kemana lagi, Nak? Hujannya masih deras,” sergah Ibu.

“Tapi, Bu, Keti masih ada di lapangan. Kasihan dia, Bu. Kehujanan. Sendirian. Nanti kalau ada yang mengambil Keti, Bagaimana bu?” Kata Aris gelisah.

“Sudah, Keti tidak apa-apa kok. Pasti besok dia masih baik-baik saja dan tidak ada yang mengambil. Dia kan pakai kalung yang kamu kasih. Lagian, ini juga sudah mau Maghrib, mau malam juga. Mending kamu shalat dulu terus doa sama Allah, semoga Keti baik-baik saja,” kata Ibu.

 Aris tak membalas lagi dan ia tidak jadi keluar rumah karena terbawa tangisan.

*****

Suara adzan berkumandang dengan keras hingga membangunkan Aris. Ketika Aris membuka pintu kamar, ia bingung dengan suasana rumahnya yang redup. Ibu dan Ayah serta adiknya pun tidak terlihat di luar kamar. Itu tambah membuat Aris makin bingung. Saat Ayah muncul di hadapannya dengan setelan lengkap mau ke masjid. Aris diberitahu kalau ia tertidur hingga melupakan Shalat Maghrib dan Isya. Kini ia hendak berangkat Shalat Subuh.

fiksi 2 (1)

Teringat dengan Keti yang hilang semalam, selepas Shalat Aris memohon kepada Ayah untuk menemaninya mencari Keti di lapangan. Ayah pun mengabulkan permohonannya. Tepat di depan rumah Pak Kodir, Ketua RT, Aris terkejut bukan main. Kucing yang ia beri nama Keti, yang selalu ia sayangi, yang selalu menemaninya bermain, kini telah mengakhiri hidupnya dengan berselimut darah di tengah jalan. Ayah ikut terkejut melihat keadaan ini. Aris langsung mengeluarkan air mata dan memeluk Ayah yang berada di sampingnya karena tak kuat melihat penderitaan si kucing kesayangannya.

“Cup, cup, cup, cup! Sudah, Nak, tidak apa-apa! Jangan menangis! Semua yang kita miliki tidak selamanya akan bersama kita. Sama seperti kucingmu sekarang. Sudah waktunya dia selesai menemani kamu. Ikhlaskan saja, Nak! Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik.”

 “Ini semua gara-garaku, kemarin tidak menjaga Keti dan mendoakannya, karena

ketiduran.” sesal Aris.

Akhirnya, dengan keadaan hati Aris yang sedang berduka, ia memakamkan Keti dengan hikmat di tanah belakang rumah bersama Ayah, Ibu dan adiknya, Nita.

Attariq Hafidz

MTs Muallimin Yogyakarta

Jangan Pergi, Keti!

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: