Di Balik Omelan Mamak


fiksi (1)

Kubuka mataku yang sayup dengan sinar cahaya lampu yang terang. Hal kedua yang paling kubenci saat tidur adalah cahaya lampu. Tentu saja yang pertama adalah suara  mamakku, yang selalu membangunkanku dan mengisi hari-hariku dengan omelan. “Mahfud, cepat bangun! Katanya mau jadi orang besar, tapi masih saja sering kesiangan. Cepatlah kau ke belakang dan ambil air wudhu!” Kata-kata itu selalu keluar dari mulut gesitnya, bahkan aku sampai hafal bila mendengarnya.

Setelah sholat dua rakaat, aku segera menyusul kakakku yang sudah membawa handuk dan gayung tuk pergi ke sungai. Di jalan aku bertemu dengan teman – temanku yang juga hendak mandi. Aku memiliki kebiasaan bila mandi selalu bermain-main terlebih dahulu, dan kak Iftah selalu saja menegurku. Bila aku tidak menurut, maka dia akan melaporkannya ke Mamak, dan aku akan dapat omelan lagi.

Seusai pelajaran di sekolah, tiba-tiba langit mendung dan turun hujan yang sangat deras.  “Pasti hujan-hujanan lagi. Lihat pakaianmu semuanya kotor! Mamak nggak mau mencucikan lagi, sekarang cepat cuci bajumu dan jemur di belakang! Mudah-mudahan saja lekas kering, kalo tidak, kamu nggak usah pake baju saja waktu sekolah besok.” Itulah yang dikatan mamak sambil melotot, saat mendapatiku basah kuyup di depan rumah.

Saat ini, di desaku sedang terjadi demam sepeda, mereka berangkat ke sekolah dengan menggunakan sepeda. Teringat olehku janji mamak, bila aku menjadi juara kelas, maka mamak akan membelikanku sepeda. Maka aku pun belajar dengan keras dan Alhamdulillah di akhir kelas 4, aku menjadi juara satu. Sambil tersenyum lebar, aku mendatangi Mamak yang sedang duduk dengan Bapak di atas kursi rotan depan rumahku.

“Ada apa kau nak? Senyum-senyum sendiri begitu?” Aku tidak menjawab pertanyaan Mamak, aku tetap tersenyum lebar sambil menyerahkan rapotku kepada Mamak. Bapak yang melihatku tersenyum, juga ikut tersenyum.

“Oh, ternyata kamu masih ingat dengan janji Mamak. Baiklah, besok Ahad, Mamak dan Bapak akan pergi ke kota tuk membelikan kau sepeda.” Kata Mamak dengan disertai anggukan kepala Bapak. Akhirnya tibalah hari Ahad, hari yang kutunggu-tunggu. Pagi ini aku telah bangun sebelum mamak mengomeliku. Bukan karena aku rajin, tapi karena pagi ini aku mau mengantarkan kepergian Mamak dan Bapak ke kota untuk membelikanku sepeda baru. Akan tetapi, setelah sarapan pagi, aku tidak melihat tanda-tanda Mamak dan Bapak akan pergi ke kota. Aku perhatikan mereka sedang berdiskusi di ruang tamu.

“Maaf, Nak, kemarin Bu Ijah, tetangga kita, datang ke rumah untuk meminjam uang karena anaknya sakit keras. Maka uang yang seharusnya digunakan untuk beli sepeda, Mamak pinjamkan ke Bu Ijah.” Mendengar jawaban Mamak, aku langsung marah dan berlari menuju kamar dan menguncinya rapat-rapat. Setelah kejadian itu, hari-hari kulalui dengan penuh rasa kesal. Aku memilih untuk diam dan tidak berkata apapun kepada Mamak. Aku sangat marah dan kesal kepada Mamak. Mamak juga lebih memilih diam dan tidak mengomeliku.

 “Mana sepeda barumu fud? Kapan kita bisa jalan-jalan dan bersepeda bareng?” Seru teman-temanku padaku usai sekolah. Kata-kata mereka menambah rasa kesalku pada Mamak yang tak jadi membelikanku sepeda. Aku hanya diam menjawab pertanyaan mereka dan mempercepat langkahku ke rumah. Sesampainya di depan rumah betapa kagetnya aku, saat mendapati Bapak dan Mamak yang tersenyum lebar menyambutku dengan sepeda baru untukku disampingnya. Aku berlari kencang dan memeluk erat mereka

Malamnya, aku terbangun dan mendengar suara mamak sedang berbicara diiringi dengan suara isak tangis. Di ruang tengah, kudapati Mamak yang sedang memakai mukenah berbincang dengan Bapak dalam keadaan menangis. Aku bingung dengan apa yang kulihat, baru saat itulah pertama kalinya aku melihat Mamak menangis. Keesokan harinya, aku menceritakan kepada Kak Iftah mengenai apa yang kulihat semalam. Kak Iftah dengan tersenyum menjelaskan bahwa Mamak dan Bapak mereka tiap malam sering melakukan sholat berjamaah untuk mendoakan anak-anaknya. Dan betapa terpukulnya aku, saat mengetahui bahwasanya Mamak telah menggadaikan cincin pernikahannya hanya karena ingin membelikanku sepeda baru. Padahal cincin itu adalah satu-satunya barang kenangan pernikahan yang telah berlangsung selama lebih dari dua puluh tahun.

Tanpa kusadari air mataku mengalir membasahi kedua pipiku. Dan mulai saat itulah aku bertekad untuk membahagiakan kedua orang tuaku, terutama Mamak. Omelannya yang dulu sangat menyebalkan bagiku, kini seakan berubah menjadi pernyataan betapa Mamak sangat menyayangiku. Wajah cemberut yang sering menghiasi wajahku, kini kubuang jauh-jauh.  Dan aku berusaha belajar serajin mungkin tanpa meminta imbalan apapun dari Mamak. Ya, di balik omelan Mamak yang tiada hentinya. Terdapat jutaan rasa kasih sayangnya padaku.

Mahfud Khairul Amin

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Di Balik Omelan Mamak

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
%d blogger menyukai ini: